LamiPak Gandeng 20 Sekolah untuk Percontohan Pengelolaan Sampah Kemasan
LamiPak Libatkan 20 Sekolah di Cikande dalam Pengelolaan Kemasan Aseptik
Beritanaya.com – Penggunaan kemasan aseptik berbahan dasar karton terus meningkat seiring kebutuhan distribusi produk pangan dan minuman. Kondisi ini mendorong PT Lami Packaging (LamiPak) Indonesia untuk memperkuat pengelolaan sampah kemasan setelah produk dikonsumsi, termasuk melalui program percontohan yang melibatkan sekolah.
Langkah tersebut dijalankan bersama 20 sekolah di Kecamatan Cikande. Sekolah-sekolah itu dilibatkan dalam kegiatan pengumpulan kemasan aseptik pascakonsumsi sebagai bagian awal dari rantai pengelolaan sampah yang lebih terhubung.
Program ini menjadi penting karena kemasan aseptik semakin banyak dipakai untuk menjaga produk tetap dapat didistribusikan. Kebutuhan susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut ikut meningkatkan penggunaan kemasan jenis tersebut. Dalam setahun, penggunaan kemasan aseptik mencapai sekitar 50 ribu ton.
Pengumpulan Menjadi Tahap Awal
Direktur PT LamiPak Indonesia Hangbiao Li menyampaikan bahwa pertumbuhan penggunaan kemasan perlu diimbangi dengan kesiapan penanganan setelah kemasan tidak lagi digunakan. Pengelolaan tidak berhenti ketika sampah dikumpulkan, melainkan perlu diteruskan hingga tahap pengolahan dan daur ulang.
“Pengelolaan kemasan aseptik kertas karton memerlukan beberapa tahapan mulai dari pengumpulan, pemilihan, pengangkutan, pengolahan sampai daur ulang,” ucap Hangbiao Li di Tangerang Selatan, Kamis (24/9).
Kemasan aseptik memerlukan pemisahan dari jenis sampah lain agar proses berikutnya dapat berjalan lebih tertata. Pengumpulan yang dilakukan di lingkungan sekolah dapat membantu membangun kebiasaan memilah kemasan setelah digunakan, sekaligus memberi gambaran mengenai pentingnya penanganan sampah dari titik awal.
Namun, ketersediaan tempat pengumpulan saja belum cukup. Material yang telah terkumpul harus tersambung dengan proses pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali melalui daur ulang. Setiap tahapan tersebut memiliki peran dalam memastikan kemasan tidak berakhir sebagai sampah yang tercampur tanpa penanganan lanjutan.
Kolaborasi Dibutuhkan hingga Tahap Daur Ulang
Pengalaman pelaksanaan program di sekolah menunjukkan bahwa pengumpulan merupakan bagian penting, tetapi bukan satu-satunya pekerjaan dalam sistem pengelolaan kemasan. Tahap ini perlu memiliki hubungan yang jelas dengan proses setelahnya agar upaya pemilahan dapat memberi hasil yang nyata.
“Pengalaman dari program tersebut menunjukkan bahwa pengumpulan merupakan bagian rantai pengelolaan yang membutuhkan keterhubungan dengan tahapan berikutnya,” ujarnya.
Keterlibatan 20 sekolah di Cikande menempatkan lingkungan pendidikan sebagai ruang praktik pengelolaan sampah kemasan. Aktivitas pengumpulan pascakonsumsi dapat menjadi pengingat bahwa sebuah kemasan masih memerlukan penanganan setelah fungsinya sebagai wadah produk selesai.
Dalam praktiknya, pengelolaan sampah kemasan mencakup sejumlah pihak dengan peran berbeda. Pengguna kemasan berperan dalam memisahkan sampah, titik pengumpulan membantu menghimpun material, sementara proses pengangkutan dan pengolahan menentukan kelanjutan penanganannya. Rangkaian tersebut perlu berjalan secara saling terhubung agar pengumpulan tidak berhenti di satu lokasi.
Hangbiao Li menekankan bahwa pengembangan sistem pengelolaan kemasan aseptik tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi diperlukan agar proses dari pengumpulan hingga daur ulang memiliki jalur yang jelas.
“Oleh karena itu, pengembangan program pengelolaan sampah kemasan aseptik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak,” sambung dia.
Menjawab Kenaikan Kebutuhan Kemasan
Peningkatan kebutuhan industri untuk memenuhi pasar membuat penggunaan kemasan aseptik terus berkembang. Kemasan berbahan dasar karton ini digunakan dalam distribusi produk, termasuk susu yang diperlukan dalam program Makan Bergizi Gratis. Bertambahnya penggunaan berarti volume kemasan pascakonsumsi juga perlu menjadi perhatian.
Karena itu, pengelolaan pascakonsumsi perlu dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penggunaan kemasan. Prosesnya dimulai dari pengumpulan, dilanjutkan pemilihan atau pemilahan, pengangkutan, pengolahan, dan akhirnya daur ulang. Jika salah satu mata rantai tidak tersedia atau tidak tersambung, material yang telah dikumpulkan berisiko tidak dapat ditangani secara optimal.
Program percontohan di Cikande memperlihatkan fokus pada penguatan tahap awal melalui sekolah. Kegiatan tersebut dapat membantu memperkenalkan alur sederhana kepada warga sekolah: kemasan yang selesai digunakan perlu dikumpulkan dan dipisahkan agar dapat masuk ke tahapan penanganan berikutnya.
Bagi masyarakat, pesan utamanya adalah bahwa pengelolaan kemasan tidak hanya berkaitan dengan membuang sampah pada tempatnya. Kemasan pascakonsumsi membutuhkan sistem yang melibatkan pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, pengolahan, serta daur ulang. Keterlibatan sekolah, pelaku industri, dan pihak-pihak lain menjadi unsur penting untuk membangun rantai pengelolaan yang berkelanjutan.
Melalui keterlibatan 20 sekolah di Kecamatan Cikande, LamiPak Indonesia mendorong pembentukan contoh praktik pengumpulan kemasan aseptik berbahan dasar karton. Inisiatif tersebut diarahkan untuk menjawab peningkatan penggunaan kemasan sekaligus memperkuat kesiapan penanganan sampah setelah produk digunakan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is LamiPak Gandeng 20 Sekolah untuk Percontohan?LamiPak Gandeng 20 Sekolah untuk Percontohan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does LamiPak Gandeng 20 Sekolah untuk Percontohan matter?LamiPak Gandeng 20 Sekolah untuk Percontohan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.