BeritaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Beberapa Dosen UINSA Surabaya Turut Suarakan Tolak Muzakki Jadi Rektor Lagi

Published September 17, 2026 · Updated September 17, 2026 · By Jennifer Williams - beritanaya.com

Foto : Jennifer Williams - beritanaya.com

Penolakan terhadap Pelantikan Rektor UINSA Mengemuka di Kampus

Beritanaya.com – Suasana di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya diwarnai penolakan dari sebagian unsur kampus menyusul pelantikan Achmad Muzakki sebagai rektor untuk masa jabatan 2026-2030. Sejumlah dosen dan mahasiswa menyuarakan keberatan atas keputusan tersebut melalui aksi penyampaian aspirasi.

Penolakan ini tidak hanya datang dari mahasiswa. Beberapa dosen UINSA turut menunjukkan sikap dengan memberi ruang bagi mahasiswa yang ingin terlibat dalam aksi. Ada pengajar yang memilih tidak menjalankan perkuliahan pada hari berlangsungnya kegiatan agar mahasiswa dapat menyampaikan pandangan mereka secara langsung.

Seorang dosen UINSA Surabaya menyatakan kelas yang diasuhnya diliburkan supaya mahasiswa dapat bergabung dalam massa aksi. Meski demikian, ia menekankan bahwa penyampaian keberatan harus tetap berlangsung tertib dan tidak merugikan lingkungan kampus.

Saya cuma pesan jangan merusak dan jangan anarkis. Sampaikan aspirasi lewat mimbar bebas.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya menjaga aksi tetap berada dalam koridor damai. Kampus merupakan ruang akademik yang memberi tempat bagi perbedaan pendapat, diskusi kritis, dan penyampaian aspirasi. Namun, kebebasan itu juga melekat dengan tanggung jawab untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta fasilitas yang dipakai bersama oleh seluruh sivitas akademika.

Keberatan Dosen terhadap Pengangkatan Kembali Muzakki

Dr. Hermanto Jakfar, dosen UINSA Surabaya, secara terbuka menyampaikan keberatannya terhadap pengangkatan Achmad Muzakki kembali sebagai rektor. Ia mengatakan terdapat kegelisahan di kalangan dosen terkait proses tersebut, terutama karena adanya dugaan tindak pidana yang muncul dari pengaduan masyarakat.

Kami para dosen merasa keberatan atas pengangkatan kembali Muzakki. Hal ini karena rektor yang baru dilantik ini diduga melakukan tindak pidana dari pengaduan masyarakat.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa penolakan yang muncul tidak semata berkaitan dengan dinamika pemilihan pimpinan kampus. Bagi pihak yang menyampaikan keberatan, persoalan ini berkaitan pula dengan kepercayaan publik, tata kelola institusi, dan reputasi perguruan tinggi keagamaan negeri tersebut.

Dalam situasi seperti ini, setiap pihak memiliki kepentingan untuk memastikan aspirasi dapat didengar secara proporsional. Mahasiswa berhak menyampaikan pandangan atas masa depan kampusnya, sementara dosen sebagai bagian dari komunitas akademik juga dapat menyuarakan penilaian mereka terhadap kebijakan yang dinilai penting. Di sisi lain, proses kelembagaan tetap perlu berjalan dengan mengedepankan aturan dan mekanisme yang berlaku.

Alumni Mendorong Evaluasi

Desakan evaluasi juga disampaikan Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni UINSA, Ahmad Bajuri. Ia meminta Menteri Agama meninjau kembali keputusan pengangkatan Muzakki sebagai rektor. Permintaan tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai dampak persoalan hukum terhadap nama baik kampus.

Apabila nanti rektor ini diperiksa kejaksaan, ini pasti membuat nama baik UINSA tercoreng.

Ucapan Ahmad Bajuri menyoroti besarnya perhatian terhadap citra UINSA di mata mahasiswa, orang tua, alumni, masyarakat, dan mitra institusi. Nama baik universitas tidak hanya dibentuk oleh capaian akademik, tetapi juga oleh keyakinan publik bahwa pengelolaan kampus berjalan secara akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kekhawatiran tersebut belum berarti kesimpulan atas suatu perkara. Dugaan yang disebutkan dalam keberatan para dosen tetap perlu ditempatkan secara hati-hati dan melalui proses yang sesuai ketentuan. Namun, tuntutan akan evaluasi menunjukkan adanya harapan agar seluruh persoalan yang memicu pertanyaan di lingkungan kampus dapat dijelaskan secara terbuka dan ditangani dengan serius.

Ruang Aspirasi dan Tanggung Jawab Akademik

Aksi penolakan di lingkungan universitas memiliki arti penting sebagai bentuk partisipasi warga kampus dalam isu yang mereka anggap menentukan arah institusi. Mahasiswa dan dosen sama-sama berkepentingan terhadap keberlanjutan kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta iklim akademik yang sehat.

Karena itu, penyampaian aspirasi secara damai melalui mimbar bebas atau forum terbuka dapat menjadi jalan untuk mempertemukan pandangan yang berbeda. Cara ini memungkinkan kritik disampaikan tanpa mengabaikan hak pihak lain untuk belajar, mengajar, bekerja, dan menggunakan fasilitas kampus dengan aman.

Perbedaan sikap terhadap kepemimpinan universitas juga perlu dipahami sebagai bagian dari kehidupan akademik. Yang penting, perdebatan tidak berhenti pada penolakan atau dukungan semata, melainkan mendorong kejelasan, komunikasi, dan penghormatan terhadap proses yang berlaku.

Pelantikan Achmad Muzakki untuk periode 2026-2030 kini menjadi perhatian di UINSA Surabaya. Sikap sejumlah dosen, mahasiswa, serta alumni menunjukkan bahwa keputusan kepemimpinan kampus memiliki dampak luas di dalam komunitas universitas. Ke depan, penanganan aspirasi dan kekhawatiran yang muncul akan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan serta suasana akademik di UINSA.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Beberapa Dosen UINSA Surabaya Turut Suarakan?

Beberapa Dosen UINSA Surabaya Turut Suarakan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Beberapa Dosen UINSA Surabaya Turut Suarakan matter?

Beberapa Dosen UINSA Surabaya Turut Suarakan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.