BeritaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Kebutuhan Meningkat, Buruh Minta Pemprov Jatim Serius Kaji UMP dan UMK 2027

Published Oktober 1, 2026 · Updated Oktober 1, 2026 · By Elizabeth Anderson - beritanaya.com

Foto : Elizabeth Anderson - beritanaya.com

Buruh Jawa Timur Dorong Kajian Menyeluruh untuk UMP dan UMK 2027

Beritanaya.com – Desakan agar penetapan upah minimum 2027 dikaji secara sungguh-sungguh mengemuka dalam aksi buruh di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Kamis (1/10). Para pekerja menilai kebijakan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) perlu mencerminkan kenaikan biaya hidup yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Timur, Jazuli, menyampaikan tuntutan kenaikan upah minimum pada rentang 7,5 persen sampai 9 persen. Angka tersebut dipandang perlu untuk merespons tekanan harga kebutuhan sehari-hari yang dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi perhatian pekerja.

Bagi buruh, penetapan UMP dan UMK bukan sekadar angka tahunan dalam keputusan pemerintah. Upah minimum berhubungan langsung dengan kemampuan pekerja memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mulai dari pangan hingga kebutuhan rumah tangga yang harganya relatif serupa di banyak wilayah Jawa Timur.

Kesenjangan Upah Antarwilayah Disorot

Jazuli menilai perbedaan UMK antara satu daerah dan daerah lain di Jawa Timur masih terlalu lebar. Ia mencontohkan kesenjangan antara Surabaya dan sejumlah kabupaten atau kota di sekitarnya maupun wilayah lain, seperti Madiun, Magetan, Nganjuk, Tuban, serta Bondowoso.

Perbedaan tersebut, kata dia, perlu menjadi bagian penting dalam evaluasi pemerintah provinsi. Ketimpangan upah yang besar dinilai tidak sejalan dengan kenyataan bahwa banyak barang kebutuhan pokok memiliki harga yang tidak jauh berbeda di berbagai daerah.

“Bahkan antara Pasuruan kota dengan Pasuruan kabupaten itu selisihnya hampir 40 persen, ini sudah tidak realistis lagi,” kata Jazuli.

Sorotan terhadap Pasuruan menunjukkan bahwa batas administrasi dapat menghasilkan perbedaan penghasilan minimum yang besar, meskipun daerah-daerah tersebut berada dalam satu kawasan yang berdekatan. Kondisi itu menjadi alasan buruh meminta penghitungan upah tidak hanya melihat karakter tiap wilayah secara terpisah, tetapi juga memperhatikan biaya hidup yang nyata di lapangan.

Evaluasi terhadap jarak UMK antarwilayah menjadi relevan karena pekerja tidak selalu tinggal dan bekerja di daerah yang sama. Mobilitas tenaga kerja, kebutuhan transportasi, biaya sewa tempat tinggal, serta harga bahan pangan dapat memengaruhi daya beli pekerja, terutama bagi mereka yang bekerja jauh dari tempat tinggalnya.

Harga Kebutuhan Harian Menjadi Pertimbangan

Selain kesenjangan UMK, FSPMI Jawa Timur meminta pemerintah tidak menetapkan upah secara asal. Jazuli mengingatkan adanya kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat yang memberi tekanan langsung terhadap pengeluaran rumah tangga pekerja.

“Harga beras, LPG, gula, minyak di semua daerah hampir sama, enggak ada perbedaan. Makanya inilah evaluasi dari gubernur untuk menetapkan upah minimum,” ujarnya.

Beras, LPG, gula, dan minyak goreng merupakan kebutuhan yang dekat dengan belanja rutin keluarga. Ketika harga komoditas tersebut meningkat atau tetap tinggi, pekerja dengan penghasilan minimum akan merasakan dampaknya lebih cepat karena sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan harian.

Karena itu, pembahasan upah minimum 2027 diharapkan tidak hanya bertumpu pada angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan apakah pendapatan minimum masih cukup untuk menjaga standar hidup layak bagi pekerja dan keluarganya.

Buruh memandang kenaikan kebutuhan hidup sebagai alasan utama agar proses kajian dilakukan secara cermat. Penetapan yang terlalu rendah berpotensi membuat kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran, sementara disparitas yang terlalu besar antarwilayah dapat memperlebar perbedaan daya beli pekerja di Jawa Timur.

Pertumbuhan Ekonomi dan Standar Kelayakan Hidup

Jazuli turut menyoroti pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mengalami peningkatan. Namun, ia menilai besaran UMP di provinsi tersebut masih termasuk salah satu yang paling rendah di Indonesia. Situasi ini menjadi dasar tuntutan agar capaian ekonomi daerah juga tercermin dalam kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan pekerja.

Pertumbuhan ekonomi memang dapat menunjukkan aktivitas produksi, perdagangan, dan jasa yang bergerak. Meski demikian, bagi pekerja, dampak pertumbuhan akan lebih terasa apabila peningkatan aktivitas ekonomi turut diikuti penguatan daya beli dan perlindungan terhadap kebutuhan hidup dasar.

Data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Ketenagakerjaan mencatat standar Kebutuhan Hidup Layak atau KHL di Jawa Timur seharusnya berada pada angka Rp3,5 juta. Angka KHL menjadi salah satu gambaran penting dalam melihat kebutuhan pekerja untuk menjalani kehidupan yang layak.

Dalam konteks pembahasan UMP dan UMK 2027, standar tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menilai kecukupan upah minimum. Buruh berharap pemerintah provinsi menempatkan data kebutuhan hidup, kondisi harga barang, serta kesenjangan antarwilayah dalam satu kajian yang utuh.

Penetapan upah minimum selalu memiliki dampak luas karena menyangkut pekerja, keluarga, perusahaan, dan perekonomian daerah. Bagi pekerja, keputusan itu menentukan ruang untuk memenuhi kebutuhan pokok. Bagi dunia usaha, kebijakan upah membutuhkan kepastian agar perencanaan biaya dan keberlangsungan pekerjaan dapat dijaga.

Dengan tuntutan kenaikan 7,5 persen hingga 9 persen, buruh Jawa Timur meminta proses menuju penetapan upah 2027 dilakukan secara serius dan realistis. Mereka menekankan bahwa ukuran keberhasilan kebijakan tidak hanya terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kemampuan pekerja membeli kebutuhan dasar secara layak di tempat mereka hidup dan bekerja.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga Kebutuhan Meningkat Buruh Minta Pemprov?

Harga Kebutuhan Meningkat Buruh Minta Pemprov is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Kebutuhan Meningkat Buruh Minta Pemprov matter?

Harga Kebutuhan Meningkat Buruh Minta Pemprov matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.