Persebaya Terpaksa Naik Kapal dan Bus Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau Mengubah Rencana Pulang Persebaya: Dari Langit ke Laut dan Darat
Beritanaya.com – Sebuah letusan vulkanik di Selat Sunda mengubah rencana kepulangan skuad Persebaya Surabaya dari Lampung menjadi perjalanan lintas moda yang tidak pernah mereka bayangkan. Alih-alih menaiki pesawat kembali ke kota asal, para pemain dan ofisial tim Bajol Ijo harus menempuh rute gabungan darat-laut yang memakan waktu jauh lebih lama, menyusul penutupan sementara bandara akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September 2025.
Latar Belakang: Laga di Lampung dan Penutupan Bandara
Persebaya baru saja menyelesaikan pertandingan tandang melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, pada Sabtu (5/9). Sesuai jadwal kompetisi, rombongan tim seharusnya langsung terbang kembali ke Surabaya menggunakan pesawat charter atau penerbangan komersial. Namun, erupsi Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda antara Lampung dan Banten memicu penutupan sementara jalur udara di kawasan tersebut. Abu vulkanik dan potensi bahaya penerbangan membuat otoritas bandara menghentikan operasional, sehingga opsi udara menjadi tidak tersedia.
Keputusan untuk mengalihkan rute perjalanan ke jalur darat dan laut diambil secara darurat. Media Officer Persebaya, Jonathan Yohvinno yang akrab disapa Vino, mengonfirmasi perubahan rencana tersebut dalam pernyataan tertulis pada Minggu (6/9).
"Tim Persebaya harus kembali dari Lampung menggunakan jalur darat dan laut," ujar Vino.
Rute Perjalanan: Bakauheni, Merak, hingga Surabaya
Rombongan Persebaya meninggalkan tempat penginapan mereka di Lampung sekitar pukul 07.00 WIB. Dari sana, mereka bergerak menuju Pelabuhan Bakauheni di pesisir selatan Lampung. Di pelabuhan tersebut, tim menyeberang Selat Sunda menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Merak di sisi Banten. Setelah tiba di Merak, perjalanan dilanjutkan sepenuhnya melalui jalur darat — menempuh jarak sekitar 400 kilometer melintasi Jawa Barat dan Jawa Timur hingga akhirnya mencapai Surabaya.
"Menuju Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang menuju Pelabuhan Merak. Sesampainya di Merak, tim akan bertolak menuju Surabaya kembali menggunakan jalur darat," jelas Vino mengenai detail rute yang ditempuh.
Rute Bakauheni–Merak merupakan salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia, menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Dalam kondisi normal, penyeberangan ini dilayani oleh puluhan kapal ferry yang mengangkut kendaraan dan penumpang. Namun, bagi skuad sepak profesional yang terbiasa bepergian dengan pesawat, pengalaman ini tentu terasa asing dan melelahkan.
Pengalaman Baru bagi Kapten Rivera
Kapten Persebaya, Francisco Rivera, mengungkapkan bahwa perjalanan menggunakan kapal ferry setelah pertandingan merupakan pengalaman pertama baginya selama membela tim berjuluk Bajol Ijo. Pemain asal Spanyol itu mengaku memahami kesulitan yang dihadapi para pendukung setia Persebaya yang kerap menempuh perjalanan jauh untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding.
"Ya, ini pengalaman baru bepergian seperti ini ke Surabaya. Kami bisa memahami para suporter yang melakukan perjalanan yang sama untuk mendukung kami," ungkap Rivera.
"Pertama kalinya saya bepergian seperti ini, di kapal, di Indonesia. Setelah perjalanan bus, kami berharap semuanya baik-baik baik saja dan kami bisa cepat tiba di Surabaya," imbuhnya.
Pernyataan Rivera ini sekaligus menyoroti realitas yang dihadapi ribuan suporter Persebaya di berbagai kota. Bagi banyak Bonek dan Bonita, perjalanan lintas provinsi menggunakan bus atau kereta api adalah hal rutin demi mendukung tim. Bagi pemain profesional yang terbiasa dengan kenyamanan penerbangan, situasi ini menjadi pengingat bahwa dukungan suporter tidak pernah datang tanpa pengorbanan waktu dan tenaga.
Gunung Anak Krakatau: Ancaman Berulang di Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau merupakan anak Gunung Krakatau yang lahir dari letusan dahsyat tahun 1883. Terletak di perairan Selat Sunda, gunung api aktif ini secara berkala mengeluarkan abu, gas, dan lava yang dapat mengganggu penerbangan di sekitar Bandara Radin Inten (Lampung) dan Bandara Soekarno-Hatta (Banten). Erupsi yang terjadi pada periode tersebut memaksa penutupan ruang udara sementara, berdampak langsung pada jadwal penerbangan komersial maupun charter di kawasan pesisir barat Jawa dan selatan Lampung.
Bagi tim sepak bola yang beroperasi dengan jadwal padat kompetisi, gangguan semacam ini menciptakan tantangan logistik yang signifikan. Tidak ada penerbangan cadangan yang dapat diandalkan dalam hitungan jam, sehingga opsi darat-laut menjadi satu-satunya jalan keluar. Kondisi ini juga berimplikasi pada pemulihan fisik pemain, mengingat perjalanan darat berjam-jam setelah pertandingan menambah beban kelelahan yang harus dikelola oleh staf kepelatihan dan medis.
Dampak terhadap Jadwal dan Kondisi Tim
Perjalanan darat dari Merak ke Surabaya menempuh jarak sekitar 400 kilometer melalui jalur Pantura atau jalur selatan Jawa, dengan estimasi waktu tempuh 8 hingga 12 jam tergantung kondisi lalu lintas. Ditambah waktu penyeberangan laut yang umumnya memakan satu hingga dua jam, total durasi perjalanan pulang bisa melampaui 14 jam. Bagi skuad yang baru menyelesaikan pertandingan 90 menit plus tambahan waktu, durasi tersebut jelas menggeser jadwal pemulihan dan persiapan untuk laga berikutnya.
Persebaya, sebagai salah satu klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia, kerap menghadapi perjalanan lintas pulau dalam kalender kompetisi. Namun, kombinasi antara jadwal padat dan gangguan alam seperti erupsi vulkanik menjadikan setiap perjalanan pulang bukan sekadar logistik, melainkan juga ujian ketahanan mental dan fisik bagi seluruh anggota tim.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Persebaya Terpaksa Naik Kapal dan Bus Imbas?Persebaya Terpaksa Naik Kapal dan Bus Imbas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Persebaya Terpaksa Naik Kapal dan Bus Imbas matter?Persebaya Terpaksa Naik Kapal dan Bus Imbas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.