BeritaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mahasiswa UGM Kaji Opsi Buffer Zone dan Sterilisasi Monyet Ekor Panjang

Published September 14, 2026 · Updated September 14, 2026 · By Daniel Moore - beritanaya.com

Foto : Daniel Moore - beritanaya.com

Mahasiswa UGM Susun Pendekatan Baru untuk Konflik Monyet dan Warga di Gunungkidul

Beritanaya.com – Konflik antara warga dan monyet ekor panjang di sejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi perhatian tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan tanaman pertanian yang terdampak, melainkan juga menyentuh hubungan masyarakat dengan satwa liar serta ruang hidup yang digunakan bersama.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora atau PKM-RSH, lima mahasiswa lintas disiplin membentuk tim PKM-RSH Macaca UGM. Mereka mengembangkan pemetaan dan pilihan penanganan konflik manusia dengan monyet ekor panjang, Macaca fascicularis, dengan menggabungkan sudut pandang bioekologi satwa dan norma sosial yang berkembang dalam kehidupan warga.

Riset Dilakukan di Tiga Kapanewon

Penelitian berlangsung di Kapanewon Paliyan, Saptosari, dan Tepus. Ketiga wilayah itu menjadi lokasi pengamatan untuk memahami pengalaman warga dalam menghadapi keberadaan monyet ekor panjang di sekitar lahan pertanian dan permukiman.

Tim riset terdiri atas Azmi Hanief Zeinadin dari Filsafat, Naura Fenadine dari Biologi, Okta Amaliya Fitriana dari Hukum, Ashma’ Nabila Rayyan dari Biologi, serta Ghalbin Charis Al Amien dari Manajemen dan Kebijakan Publik. Kegiatan ini mendapat pendampingan dari dosen Abdul Rokhmat Sairah Z.

Komposisi keilmuan yang beragam memberi ruang untuk melihat persoalan dari lebih dari satu sisi. Kajian biologi membantu memahami satwa yang terlibat dalam konflik, sementara perspektif hukum dan sosial digunakan untuk membaca kebiasaan, pertimbangan, serta nilai yang memengaruhi tindakan masyarakat.

Dalam pembahasan penanganan konflik, tim mengkaji opsi seperti pembentukan buffer zone atau zona penyangga dan sterilisasi monyet ekor panjang. Opsi tersebut ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: upaya mengurangi perjumpaan dan dampak konflik tanpa mengabaikan kondisi sosial warga maupun keberadaan satwa liar.

Mitigasi Warga Berangkat dari Pengalaman Sehari-hari

Warga di lokasi penelitian selama ini telah menjalankan berbagai langkah mandiri untuk menjaga lahan. Cara yang digunakan antara lain memasang jaring, memanfaatkan bunyi-bunyian, membuat orang-orangan sawah, serta melakukan perondaan secara berkala.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak bersikap pasif ketika menghadapi gangguan pada tanaman. Mereka membangun respons melalui praktik yang dapat dilakukan di tingkat lokal, menyesuaikan kebutuhan lahan dan pengalaman yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Okta Amaliya Fitriana menilai respons tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari living law, yakni norma yang hidup dan dijalankan dalam masyarakat. Praktik lokal tidak semata-mata merupakan tindakan teknis untuk mengusir satwa, tetapi juga mencerminkan cara warga memaknai hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

“Mitigasi yang dilakukan masyarakat tidak muncul begitu saja. Ada pengalaman, kebiasaan, nilai, dan pengetahuan lokal yang membentuk cara masyarakat merespons keberadaan monyet ini. Oleh karena itu, praktik tersebut perlu dipahami sebagai bagian penting dari living law,” kata Okta.

Pendekatan itu penting karena tindakan yang tampak sederhana di lapangan bisa memiliki dasar sosial yang kuat. Pemasangan jaring, penggunaan suara, atau penjagaan lahan dapat menjadi bagian dari pengetahuan praktis yang terbentuk melalui pengalaman menghadapi gangguan satwa secara berulang.

Kerugian Pertanian dan Pertimbangan Etik

Konflik satwa liar di Gunungkidul membawa dampak ekonomi melalui kerusakan pada lahan pertanian. Namun, persoalan tersebut tidak berhenti pada hitungan kerugian hasil tanaman. Di lapangan, terdapat pula pertimbangan etik yang membuat warga berada dalam posisi sulit.

Walaupun tanaman mengalami kerusakan, sebagian besar masyarakat enggan melukai ataupun membunuh monyet ekor panjang. Sikap itu berhubungan dengan nilai keagamaan dan kebiasaan untuk menjaga keharmonisan alam. Dengan demikian, penanganan konflik tidak dapat dipahami hanya sebagai upaya menyingkirkan satwa dari area pertanian.

Dilema ini memperlihatkan perlunya solusi yang mempertimbangkan keselamatan dan kebutuhan warga sekaligus nilai yang mereka pegang. Pilihan mitigasi yang diterapkan tanpa memahami kondisi lokal berisiko tidak selaras dengan praktik masyarakat yang telah ada.

Kajian PKM-RSH Macaca UGM menempatkan konflik tersebut sebagai persoalan hubungan manusia, lingkungan, dan ruang hidup satwa. Sudut pandang ini membuka kemungkinan pembahasan yang lebih menyeluruh, termasuk bagaimana warga melindungi mata pencaharian tanpa mengesampingkan pertimbangan kemanusiaan terhadap satwa liar.

Mencari Jalan Penanganan yang Lebih Selaras

Pengkajian zona penyangga dan sterilisasi menjadi bagian dari upaya mencari alternatif yang tidak hanya berorientasi pada tindakan sesaat. Setiap pilihan memerlukan pemahaman atas konteks setempat, sebab keberhasilan penanganan konflik juga dipengaruhi oleh penerimaan warga dan kesesuaian langkah dengan kondisi di lapangan.

Penelitian ini menegaskan bahwa pengetahuan lokal layak ditempatkan sebagai unsur penting dalam penyusunan strategi. Pengalaman masyarakat dapat membantu menggambarkan bentuk gangguan yang mereka hadapi, respons yang selama ini dipakai, serta batas-batas tindakan yang dianggap dapat diterima secara sosial.

Bagi warga di wilayah yang berhadapan dengan monyet ekor panjang, konflik semacam ini merupakan bagian nyata dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pembahasan solusi perlu memberi ruang bagi suara masyarakat, data tentang satwa, serta nilai yang menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.

Melalui kerja lintas disiplin, tim mahasiswa UGM berupaya memperluas cara pandang terhadap persoalan tersebut. Penanganan konflik manusia dan monyet ekor panjang di Gunungkidul diharapkan tidak hanya menjawab dampak pada pertanian, tetapi juga menghormati pengetahuan, kebiasaan, dan pertimbangan etik yang hidup di tengah masyarakat.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Mahasiswa UGM Kaji Opsi Buffer Zone?

Mahasiswa UGM Kaji Opsi Buffer Zone is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mahasiswa UGM Kaji Opsi Buffer Zone matter?

Mahasiswa UGM Kaji Opsi Buffer Zone matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.