BeritaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dewi: Berikan Afirmasi Proposional dalam Pengangkatan PPPK Menjadi PNS, Utamakan Keadilan

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Susan Brown - beritanaya.com

Foto : Susan Brown - beritanaya.com

Forum PPPK PGRI Nasional Dorong Afirmasi Adil bagi PPPK dalam Seleksi PNS

Beritanaya.com – Dewi - Wacana pembukaan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada 2027 mendapat respons positif dari Forum PPPK PGRI Nasional. Organisasi tersebut memandang rencana itu sebagai peluang untuk menjawab kebutuhan aparatur sipil negara sekaligus membuka ruang pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat.

Namun, peluang bagi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), terutama guru dan tenaga kependidikan, untuk mengikuti jalur menuju PNS dinilai perlu disertai mekanisme yang mencerminkan keadilan. Ketua Forum PPPK PGRI Nasional Dewi Nurpuspitasari menekankan bahwa pengalaman para PPPK selama ini sepatutnya menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan.

Pernyataan itu disampaikan Dewi pada Selasa, 15 September 2026. Ia menegaskan dukungan forum terhadap kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ASN serta memberi kesempatan masyarakat berkontribusi bagi negara.

“Kami berharap proses seleksi dilakukan secara transparan, objektif, akuntabel, dan berkeadilan dengan informasi yang jelas mengenai formasi, persyaratan, mekanisme seleksi, serta kesempatan bagi PPPK,” kata Dewi Nurpuspitasari.

Transparansi Seleksi Menjadi Hal Penting

Bagi peserta seleksi, keterbukaan informasi memiliki arti besar. Kejelasan mengenai jumlah dan jenis formasi, kriteria pelamar, tahapan ujian, hingga peluang bagi PPPK akan membantu calon peserta mempersiapkan diri secara lebih baik. Transparansi juga penting agar proses rekrutmen dapat dipahami oleh publik dan tidak menimbulkan ketidakpastian bagi tenaga yang telah lama menjalankan tugas pelayanan.

Forum PPPK PGRI Nasional menilai bahwa sistem seleksi harus tetap objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, setiap peserta perlu dinilai melalui mekanisme yang jelas, dengan standar yang diterapkan secara konsisten. Dalam saat yang sama, kebijakan tersebut diharapkan dapat mengakui rekam pengabdian PPPK tanpa mengabaikan prinsip kompetisi yang sehat.

Persoalan status kepegawaian menjadi perhatian penting bagi banyak guru dan tenaga kependidikan. Mereka menjalankan peran langsung dalam layanan pendidikan, mulai dari kegiatan belajar-mengajar hingga dukungan administratif dan operasional di satuan pendidikan. Karena itu, pembahasan mengenai akses PPPK ke seleksi PNS tidak hanya terkait status kerja, tetapi juga menyangkut keberlanjutan tenaga pelayanan publik.

PPPK Bukan Peserta Seleksi Baru

Dewi mengingatkan bahwa banyak PPPK, khususnya di lingkungan pendidikan, telah lebih dulu melewati proses seleksi ASN. Mereka bukan kelompok pelamar yang sama sekali belum pernah diuji untuk masuk dalam sistem aparatur negara.

Sejumlah PPPK telah mengikuti seleksi dan pengujian kompetensi sebelum memperoleh pengangkatan. Bahkan, terdapat peserta yang menjalani proses seleksi lebih dari sekali hingga akhirnya menjadi PPPK. Pengalaman tersebut dinilai relevan apabila pemerintah nantinya menyediakan kesempatan seleksi bagi PPPK yang ingin beralih ke status PNS.

Riwayat tersebut tidak serta-merta dimaknai sebagai permintaan jalur tanpa seleksi. Forum justru mendukung jika PPPK diberi ruang mengikuti proses menuju PNS. Yang ditekankan adalah perlunya rancangan seleksi yang mempertimbangkan kondisi peserta secara proporsional.

“Kami tidak meminta keistimewaan, tetapi meminta keadilan dan afirmasi yang proporsional,” ucap Dewi.

Afirmasi proporsional dapat dipahami sebagai pengakuan terhadap hal-hal yang telah dimiliki PPPK, seperti masa kerja, pengalaman menjalankan tugas, kompetensi, hasil kinerja, dan tahapan seleksi yang pernah mereka lalui. Unsur-unsur tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan, tanpa menghilangkan kebutuhan untuk menjaga mutu dan integritas rekrutmen ASN.

Masa Pengabdian dan Kinerja Perlu Dipertimbangkan

Forum PPPK PGRI Nasional berpandangan bahwa seleksi menuju PNS bagi PPPK perlu melihat lebih dari sekadar hasil pada satu tahapan ujian. Masa pengabdian dapat mencerminkan pengalaman seseorang dalam menjalankan fungsi pelayanan. Sementara itu, kompetensi dan kinerja menggambarkan kemampuan peserta dalam melaksanakan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya.

Bagi guru, pengalaman di kelas dan keterlibatan dalam proses pendidikan merupakan bagian penting dari praktik profesional sehari-hari. Adapun tenaga kependidikan menopang berbagai kebutuhan sekolah melalui tugas administrasi, pengelolaan layanan, dan dukungan operasional. Pengalaman kerja mereka berada dalam konteks pelayanan publik yang nyata, sehingga dinilai layak memperoleh perhatian ketika desain kebijakan disusun.

Pertimbangan atas proses seleksi sebelumnya juga menjadi salah satu poin yang disoroti. PPPK yang telah menjalani seleksi ASN pada masa lalu telah melalui tahapan penilaian tertentu sebelum diangkat. Karena itu, forum berharap pengalaman tersebut tidak diperlakukan seolah-olah tidak pernah ada ketika kesempatan seleksi PNS dibuka.

Pada akhirnya, dukungan terhadap pembukaan CPNS 2027 disertai harapan agar pemerintah menghadirkan mekanisme yang dapat dipahami dan dirasakan adil oleh seluruh pihak. Masyarakat umum tetap memperoleh kesempatan untuk mengikuti seleksi, sedangkan PPPK yang telah mengabdi dapat memperoleh ruang yang layak melalui afirmasi yang terukur.

Keberadaan informasi yang rinci mengenai formasi, syarat, tahapan, serta posisi PPPK dalam mekanisme seleksi akan menjadi faktor penting. Dengan aturan yang transparan dan penilaian yang proporsional, proses rekrutmen ASN diharapkan mampu menjawab kebutuhan aparatur sekaligus menghargai pengalaman tenaga yang telah menjalankan pengabdian di bidangnya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Dewi?

Dewi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dewi matter?

Dewi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.