BeritaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menteri Jumhur Gaungkan Gerakan Tobat Ekologis di Depan Pastor & Masyarakat Adat Danau Toba

Published Oktober 29, 2026 · Updated Oktober 29, 2026 · By Elizabeth Anderson - beritanaya.com

Foto : Elizabeth Anderson - beritanaya.com

Gerakan Tobat Ekologis Didorong Menjadi Aksi Bersama di Kawasan Danau Toba

Beritanaya.com – Upaya menjaga bumi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan atau kampanye sesaat. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, mengajak seluruh unsur masyarakat membangun gerakan Tobat Ekologis sebagai komitmen nyata untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam.

Pesan itu disampaikan Jumhur dalam pertemuan bersama para pastor, Yayasan Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Ordi Kapusin Provinsi Medan, serta masyarakat di kawasan Danau Toba, Rabu (28/10/2026). Dalam forum tersebut, perlindungan lingkungan ditempatkan sebagai agenda yang berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap hak-hak agraria masyarakat.

Danau Toba memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun budaya. Karena itu, pembicaraan mengenai pemulihan ekologi di kawasan ini tidak hanya menyangkut pepohonan, air, atau sampah, tetapi juga keterlibatan warga yang hidup dan bergantung pada ruang hidupnya.

Kesalahan terhadap alam perlu diakui bersama

Jumhur menekankan bahwa kerusakan lingkungan merupakan hasil dari tindakan banyak pihak dalam waktu panjang. Tanggung jawab tersebut, kata dia, tidak hanya melekat pada individu, tetapi juga kelompok, organisasi, perusahaan, hingga negara.

“Intinya, individu, kelompok, organisasi, apalagi korporasi, termasuk negara, pernah berbuat salah kepada bumi ini, berbuat salah kepada lingkungan. Dan karena itu, kita perlu bertobat secara bersama-sama,” kata Menteri Jumhur.

Gagasan Tobat Ekologis yang disuarakan dalam pertemuan itu mengandung ajakan untuk mengakui dampak perilaku manusia terhadap alam, lalu mengubahnya menjadi tindakan yang lebih bertanggung jawab. Pendekatan ini menempatkan persoalan lingkungan bukan semata-mata sebagai urusan teknis, melainkan juga sebagai persoalan moral dan sosial.

Ia merujuk pada ensiklik kedua Paus Fransiskus, Laudato Si’, yang diterbitkan pada 2015. Dokumen tersebut telah mendorong kesadaran global mengenai pentingnya perubahan sikap dalam menghadapi krisis lingkungan. Jumhur menyampaikan bahwa semangat tersebut perlu diterjemahkan dalam langkah konkret di Indonesia.

Peran berbeda, tanggung jawab tetap ada

Setiap pihak memiliki kemampuan dan kewajiban yang tidak sama dalam menjaga lingkungan. Namun, perbedaan peran itu tidak menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Pada tingkat pribadi, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Di tingkat komunitas, kerja bersama dapat memperkuat pengawasan dan kepedulian terhadap ruang hidup. Sementara itu, lembaga, dunia usaha, dan pemerintah dituntut mengambil langkah yang sepadan dengan kewenangan serta dampak kegiatan mereka.

Jumhur menyatakan bentuk pertobatan ekologis perlu disesuaikan dengan kapasitas masing-masing unsur masyarakat. Pelaksanaannya juga harus memiliki daya ikat dan, bila diperlukan, didukung instrumen penegakan hukum. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan perlu bertemu dengan aturan yang dapat dijalankan secara konsisten.

Bagi individu, langkah awal yang ditekankan adalah tindakan sederhana dengan pengaruh langsung terhadap lingkungan. Masyarakat diajak tidak membuang sampah sembarangan, menghentikan kebiasaan melempar sampah plastik ke sungai, serta menggunakan energi secara bijak di dalam ruangan.

Kebiasaan kecil semacam itu kerap terlihat sepele, tetapi dampaknya dapat meluas ketika dilakukan oleh banyak orang dan terus-menerus. Sampah yang masuk ke saluran air dapat berpindah ke sungai dan wilayah perairan lain. Penggunaan energi yang berlebihan juga memperbesar beban sumber daya. Karena itu, perubahan perilaku harian menjadi bagian penting dari upaya yang lebih besar untuk menjaga lingkungan.

Penanaman pohon sebagai penanda komitmen

Dalam rangkaian kegiatan Gerakan Tobat Ekologis Nasional, Menteri Jumhur menyerahkan bibit secara simbolis kepada Pastor Walden Sitanggang. Penyerahan itu kemudian diikuti kegiatan penanaman pohon bersama.

Pastor Walden Sitanggang hadir sebagai pengurus Yayasan Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan serta Ketua Sekretariat Bersama Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis di Sumatera Utara. Hadir pula Pastor Guido Situmorang dan Sorbatua Siallagan, Ketua Komunitas Masyarakat Keturunan Ompu Umbak Siallagan, Dolok Parmonangan.

Kehadiran tokoh agama dan masyarakat adat memberi makna penting pada kegiatan tersebut. Perlindungan alam membutuhkan ruang dialog yang mempertemukan nilai keagamaan, pengetahuan masyarakat setempat, kepentingan sosial, serta kebijakan publik. Dalam konteks ini, penanaman pohon menjadi simbol, tetapi keberlanjutan perawatannya dan perubahan perilaku sehari-hari tetap menjadi bagian yang menentukan.

Menjaga lingkungan dan ruang hidup masyarakat

Ajakan Tobat Ekologis juga menegaskan bahwa pemulihan alam tidak dapat dipisahkan dari keadilan bagi masyarakat. Perlindungan hak-hak agraria menjadi salah satu unsur yang disoroti dalam pertemuan tersebut. Lingkungan yang sehat dan ruang hidup yang terlindungi merupakan dua hal yang saling berkaitan, terutama bagi komunitas yang memiliki hubungan erat dengan tanah, hutan, air, dan wilayah adatnya.

Gerakan ini pada akhirnya mengajak publik melihat persoalan lingkungan secara lebih luas. Bukan hanya tentang mengurangi sampah atau menanam pohon, tetapi juga tentang cara manusia mengambil keputusan, menggunakan sumber daya, menghormati sesama, dan menjaga alam untuk masa depan.

Dengan mengubah kepedulian menjadi kebiasaan dan kebijakan yang nyata, Tobat Ekologis diharapkan tidak berhenti sebagai seruan moral. Gerakan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pemulihan bumi memerlukan tanggung jawab bersama, dari tindakan sederhana di rumah hingga keputusan besar yang dibuat oleh institusi dan negara.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menteri Jumhur Gaungkan Gerakan Tobat Ekologis?

Menteri Jumhur Gaungkan Gerakan Tobat Ekologis is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menteri Jumhur Gaungkan Gerakan Tobat Ekologis matter?

Menteri Jumhur Gaungkan Gerakan Tobat Ekologis matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.