BeritaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meski IHSG Merangkak Naik, Rupiah Sore Ini Ambyar

Published Oktober 23, 2026 · Updated Oktober 23, 2026 · By Emily Martinez - beritanaya.com

Foto : Emily Martinez - beritanaya.com

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS

Beritanaya.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Jumat sore, 23 Oktober. Di akhir perdagangan, mata uang Indonesia melemah 20 poin atau sekitar 0,11 persen menjadi Rp18.080 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp18.060 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati sejumlah sentimen dari luar negeri. Pergerakan indeks saham yang cenderung menguat belum cukup mengangkat mata uang domestik karena perhatian pasar tetap tertuju pada kondisi ekonomi Amerika Serikat serta risiko gangguan pasokan energi dunia.

Data Ketenagakerjaan AS Menguatkan Dolar

Analis mata uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai data klaim pengangguran awal Amerika Serikat menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap rupiah. Data untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat 194 ribu klaim, lebih baik daripada perkiraan pasar.

“Data klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat lebih baik dari perkiraan, yakni sebesar 194 ribu,”

Angka tersebut juga berada di bawah estimasi dan catatan sebelumnya yang mencapai 200 ribu. Ibrahim menilai capaian itu menjadi level terendah dalam hampir 57 tahun. Data ketenagakerjaan yang lebih kuat dapat mendorong penguatan dolar AS karena pasar melihat kondisi ekonomi Amerika masih memiliki daya tahan.

Bagi pasar valuta asing, laporan ketenagakerjaan kerap menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah ekonomi dan kebijakan moneter. Ketika data menunjukkan jumlah klaim pengangguran turun, pasar dapat menafsirkan bahwa kondisi pasar kerja AS masih relatif solid. Situasi semacam ini biasanya membuat dolar AS lebih diminati, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat menghadapi tekanan.

Pergerakan kurs sendiri tidak hanya dipengaruhi satu data. Nilai rupiah juga dapat berubah mengikuti kebutuhan dolar untuk transaksi perdagangan, arah investasi, tingkat risiko global, serta respons pelaku pasar terhadap berita ekonomi dan geopolitik. Karena itu, penguatan indeks saham tidak selalu berjalan searah dengan pergerakan nilai tukar pada hari yang sama.

Ketegangan Timur Tengah Menjadi Perhatian Pasar

Selain sentimen ekonomi Amerika Serikat, pasar juga menyoroti risiko pada pasokan energi menyusul serangan kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi terhadap Arab Saudi. Kekhawatiran tersebut muncul karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar di dunia.

Pada Kamis, 22 Oktober, Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran. Lokasi itu berada di kawasan Teluk, tidak jauh dari Bahrain. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah yang berbasis di Yaman.

“Bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus berkecamuk sejak kelompok Houthi bergerak maju menuju Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran strategis di mulut Laut Merah,” ujar Ibrahim.

Bab el-Mandeb memiliki arti penting bagi jalur pelayaran internasional karena menghubungkan kawasan Laut Merah dengan Teluk Aden. Ketegangan di sekitar rute strategis dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi dan perdagangan laut. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, investor umumnya lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.

Kekhawatiran mengenai pasokan minyak dapat memengaruhi banyak aspek ekonomi global. Harga energi yang bergejolak berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Bagi negara yang melakukan impor energi, perubahan harga minyak juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena dapat berpengaruh terhadap kebutuhan valuta asing.

JISDOR Bank Indonesia Turut Bergerak Turun

Tekanan pada rupiah juga tercermin dalam kurs referensi Bank Indonesia. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR pada Jumat berada di Rp18.069 per dolar AS. Angka ini melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang tercatat Rp18.047 per dolar AS.

JISDOR merupakan kurs referensi yang diterbitkan Bank Indonesia untuk menggambarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pergerakannya menjadi salah satu rujukan yang diperhatikan pelaku usaha dan pasar keuangan, terutama bagi pihak yang memiliki kebutuhan pembayaran atau penerimaan dalam dolar AS.

Selisih pergerakan beberapa puluh rupiah per dolar dapat terasa berbeda bagi tiap pihak. Bagi importir atau perusahaan dengan kewajiban pembayaran valuta asing, rupiah yang melemah berarti kebutuhan rupiah untuk memperoleh dolar menjadi lebih besar. Sebaliknya, pelaku usaha yang menerima pendapatan dalam dolar dapat memperoleh nilai rupiah yang lebih tinggi saat melakukan konversi, meski dampak akhirnya tetap bergantung pada struktur biaya dan kewajiban masing-masing.

Pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi Amerika Serikat serta situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Kedua faktor tersebut berpotensi menentukan tingkat kehati-hatian investor dalam beberapa waktu ke depan. Untuk rupiah, arah pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan respons pasar terhadap perkembangan ekonomi domestik.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Meski IHSG Merangkak Naik Rupiah Sore?

Meski IHSG Merangkak Naik Rupiah Sore is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Meski IHSG Merangkak Naik Rupiah Sore matter?

Meski IHSG Merangkak Naik Rupiah Sore matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.