PT Geo Dipa Energi Siap Bangun Pembangkit Listrik Geothermar Berkapasitas 965 MW
PT Geo Dipa Energi Siap Kembangkan Panas Bumi hingga 965 MW
Beritanaya.com – PT Geo Dipa Energi Siap mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan target kapasitas total mencapai 965 megawatt (MW) dalam 10 tahun mendatang. Selain menambah pasokan listrik dari energi terbarukan, perusahaan juga membidik produksi silika dan litium sekitar 5.000 ton per tahun.
Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, dalam Media Gathering Kementerian Keuangan 2026 di Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10). Pengembangan geothermal ini menjadi bagian dari pemanfaatan potensi panas bumi Indonesia yang masih sangat besar.
Proyek Pembangkit Mendekati 400 MW
Saat ini, Geo Dipa telah mengoperasikan pembangkit panas bumi berkapasitas 120 MW. Perusahaan juga sedang membangun proyek pembangkit berkapasitas 100 MW serta menyiapkan proses pengadaan untuk pembangkit tambahan sebesar 110 MW.
Dengan kapasitas yang sudah berjalan, proyek konstruksi, dan rencana pengadaan tersebut, total pengembangan yang ditangani perusahaan mendekati 400 MW. PT Geo Dipa Energi Siap melanjutkan ekspansi dengan dukungan pengalaman operasi dan pemeliharaan fasilitas geothermal selama 24 tahun.
Energi panas bumi memanfaatkan panas alami dari bawah permukaan bumi untuk menghasilkan listrik. Berbeda dengan sumber energi yang dipengaruhi cuaca harian, pembangkit geothermal dapat menjadi salah satu penopang pasokan listrik rendah emisi secara berkelanjutan.
Peluang Silika dan Litium dari Panas Bumi
Pengembangan geothermal yang dilakukan Geo Dipa tidak hanya diarahkan untuk produksi listrik. Perusahaan juga melihat peluang pengambilan mineral dari aktivitas sumur panas bumi, terutama silika dan litium, yang dapat memberikan nilai tambah bagi proyek energi bersih.
“Mineral-mineral ini ekuivalen dengan mineral yang dihasilkan dari tambang, tetapi dia munculnya dari sumur panas bumi. Menariknya adalah ini bisa diklaim green minerals. Kalau yang di tambang gray minerals karena dia pakai fosil alat coiling-nya, eskavatornya berbahan bakar BBM semua,” ujar Yudistian.
Menurut Yudistian, mineral yang dihasilkan dari sumur panas bumi berpotensi dikategorikan sebagai green minerals. Istilah tersebut merujuk pada proses perolehannya yang terintegrasi dengan aktivitas geothermal, berbeda dari penambangan konvensional yang banyak menggunakan peralatan berbahan bakar fosil.
Target produksi silika dan litium sekitar 5.000 ton per tahun diharapkan dapat memperkuat nilai ekonomi proyek panas bumi. Pendapatan tambahan dari mineral ini berpotensi mendukung efisiensi pengembangan lapangan geothermal dan membuat biaya listrik panas bumi lebih kompetitif pada masa depan.
Potensi Panas Bumi Indonesia Masih Luas
Indonesia memiliki sumber daya panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), atau kurang lebih 40 persen dari potensi geothermal dunia. Namun, pemanfaatannya masih sekitar 11 persen, dengan kapasitas terpasang berada di kisaran 2,7 GW.
Kondisi ini menunjukkan ruang pengembangan yang besar bagi sektor energi panas bumi nasional. PT Geo Dipa Energi Siap mengambil bagian dalam pengembangan tersebut melalui target pembangunan pembangkit hingga 965 MW dalam satu dekade.
Meski potensinya besar, proyek geothermal membutuhkan proses yang panjang. Tahapannya mencakup eksplorasi, pembuktian sumber daya, pembangunan infrastruktur, hingga pengoperasian pembangkit. Pembiayaan yang dibutuhkan juga besar karena kondisi sumber panas di bawah tanah harus dipastikan sebelum investasi skala besar dijalankan.
Tambahan 14 Lokasi Eksplorasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan 14 lokasi eksplorasi baru dengan total potensi energi 732 MW. Tambahan investasi untuk pengembangan lokasi tersebut diperkirakan mencapai 0,4 miliar dolar AS, sehingga total kebutuhan investasi menjadi 5,75 miliar dolar AS.
Penambahan lokasi eksplorasi memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengembang, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan di wilayah proyek. Hasil eksplorasi akan menjadi dasar penting untuk menentukan kelayakan pembangunan pembangkit panas bumi.
Apabila dikembangkan secara konsisten, panas bumi dapat memperkuat bauran energi terbarukan Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis fosil. Bagi masyarakat, pengembangan ini membuka peluang tersedianya pasokan listrik bersih yang lebih stabil dalam jangka panjang.
FAQ tentang Pengembangan Geo Dipa Energi
Berapa target kapasitas pembangkit yang akan dikembangkan Geo Dipa?
Geo Dipa menargetkan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi hingga mencapai kapasitas 965 MW dalam 10 tahun mendatang.
Berapa kapasitas pembangkit yang telah dan sedang ditangani?
Geo Dipa telah mengoperasikan pembangkit 120 MW, membangun proyek 100 MW, serta mempersiapkan pengadaan pembangkit tambahan 110 MW. Total kapasitas yang ditangani mendekati 400 MW.
Mengapa silika dan litium penting bagi proyek geothermal?
Silika dan litium dapat memberikan nilai ekonomi tambahan dari aktivitas sumur panas bumi. Pemanfaatannya berpotensi membantu memperkuat keekonomian proyek tanpa mengubah fungsi utama geothermal sebagai sumber listrik.