Historic Moment: Perlintasan KA Laswi Bandung Terancam oleh Kerikil dan Batu
Historic Moment – Kota Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah terjadi kecelakaan perlintasan kereta api (KA) Laswi yang menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan transportasi. Insiden ini menunjukkan betapa kritisnya masalah kerikil dan batu yang mengganggu permukaan rel, sehingga memicu keluhan dari warga dan pengguna jalan. Dalam video viral yang beredar, terlihat seorang pengemudi mobil mengalami kecelakaan saat melintasi perlintasan karena permukaan jalan yang tidak rata. Meski insiden tersebut berlangsung singkat, dampaknya terasa besar bagi pengguna jalan yang sehari-hari melewati area tersebut.
Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan Laswi: Proses Bertahap
Pemimpin proyek perbaikan Jalan Laswi, Kuswardojo, Manager Humas Daop II Bandung, menjelaskan bahwa pihaknya sedang melakukan penyesuaian geometri jalan untuk memastikan kestabilan dan keselamatan perlintasan. “Kami menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, dengan sisi kanan dan kiri dikerjakan secara bergantian,” tambahnya. Penyesuaian ini mencakup penyesuaian elevasi permukaan jalan, kelandaian radius lengkung, serta lebar jalur. Selain itu, konstruksi di sekitar area lintasan juga diperbaiki untuk mencegah risiko kecelakaan yang bisa terjadi akibat ketidakseimbangan permukaan.
“Pekerjaan ini sangat penting karena perlintasan KA Laswi merupakan bagian vital dari sistem transportasi Kota Bandung. Kami berupaya memastikan bahwa setiap tahap pengerjaan dilakukan dengan teliti agar hasilnya maksimal,” kata Kuswardojo dalam pernyataannya, Senin (22/6/2026).
Proses perbaikan dimulai pada 20 hingga 26 Juni 2026 dengan fokus pada pembongkaran rel, pengangkatan bantalan, batu balas lama, serta pengisian batu balas baru. Tahap selanjutnya pada 27 sampai 29 Juni adalah pemadatan permukaan jalan untuk memastikan kualitas konstruksi optimal. Pengaspalan akan selesai pada 30 Juni, menurut rencana. Kuswardojo menegaskan bahwa langkah bertahap ini dilakukan agar tidak mengganggu lalu lintas sehari-hari dan memastikan kestabilan struktur jalan setelah pengerjaan selesai.
Keluhan Publik dan Dampak Insiden pada Aktivitas Sehari-hari
Insiden perlintasan KA Laswi menjadi sorotan karena terjadi beberapa kali dalam bulan ini. Warga sekitar mengeluhkan bahwa kerikil dan batu yang menyebar di sepanjang jalur rel membuat risiko kecelakaan meningkat. Kondisi ini tidak hanya mengganggu keamanan pengguna jalan, tetapi juga memengaruhi kelancaran transportasi umum yang sering digunakan oleh masyarakat. “Kami mendengar keluhan dari warga dan pengguna jalan, sehingga kami mempercepat pengerjaan untuk mengatasi masalah ini,” jelas Kuswardojo.
Keluhan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas pembangunan infrastruktur di Kota Bandung. Jalan Laswi adalah salah satu jalur utama yang menghubungkan beberapa wilayah strategis, termasuk pusat kota dan area industri. Dengan banyaknya kerikil yang terlempar ke permukaan jalan, ada potensi risiko besar terutama bagi pengemudi yang kurang hati-hati. “Historic Moment ini menunjukkan bahwa meskipun infrastruktur sudah dibangun, pemeliharaannya tetap diperlukan agar tetap aman dan layak digunakan,” tuturnya.
Pemerintah setempat berupaya memperbaiki kondisi ini dengan menyisihkan anggaran khusus untuk proyek perlintasan KA Laswi. Selain memperbaiki struktur jalan, pihak terkait juga melakukan pengawasan ketat terhadap proses pengerjaan agar tidak ada kesalahan yang bisa menimbulkan masalah serius. “Historic Moment ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua, bahwa infrastruktur harus terus diperhatikan dan diperbaiki sesuai kebutuhan,” pungkas Kuswardojo.
Dalam upaya mencegah kecelakaan serupa, proyek perlintasan KA Laswi Bandung juga memperhatikan aspek keselamatan dan keandalan. Seluruh tahap pengerjaan dirancang dengan memperhitungkan kestabilan rel dan permukaan jalan yang rata. Proses ini tidak hanya berdampak pada keamanan pengguna jalan, tetapi juga pada kenyamanan penumpang kereta api. “Kami ingin memastikan bahwa Historic Moment ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi menjadi solusi jangka panjang,” ujar Kuswardojo.
