Richa Novisha Teringat Kenangan Tragis Setiap Dengar Suara Ambulans Seusai Ditinggal Gary Iskak
Tiap dengar Suara Ambulans Seusai Ditinggal – Dalam perjalanan kehidupannya, Richa Novisha, istri dari musisi legendaris Gary Iskak, merasakan suara sirene ambulans sebagai pengingat pahit yang tak pernah lekang. Setiap kali dengar suara ambulans seusai ditinggal suaminya, ia tak bisa membendung air mata dan kenangan masa lalu langsung menghiasi pikirannya. Gary Iskak meninggal dunia di usia 67 tahun, dan proses pemakamannya yang berlangsung dengan ambulans menjadi momen yang sangat berkesan bagi Richa. “Setiap dengar suara ambulans seusai ditinggal Gary, rasanya seperti menggambarkan perasaan sedih yang tak pernah sirna,” ujarnya sambil mengusap air mata di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (7/7).
Suara Ambulans sebagai Pengingat Tak Terpisahkan
Richa menjelaskan, suara sirene ambulans sering memicu kenangan tentang hari-hari terakhir Gary. Saat ia dan anak-anaknya mengantarkan suami tercinta ke tempat tidur terakhirnya di rumah sakit, ambulans yang menemani proses tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan. Selain itu, suara tersebut juga terus mengingatkannya pada prosesi pemakaman yang diadakan dengan menggunakan kendaraan ambulans. “Tak hanya kesedihan, tapi juga keheningan dan kehilangan yang mendalam. Tiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, rasanya seperti suara langit yang mengingatkanku akan momen-momen berat itu,” tambahnya.
“Dalam kehidupan sehari-hari, suara ambulans menjadi salah satu hal yang paling mampu memicu emosi kuat. Mungkin karena suara itu selalu terkait dengan peristiwa tragis Gary Iskak,” kata Richa Novisha.
Upaya Mempertahankan Ketegaran dalam Kesedihan
Untuk mengatasi perasaan menyakitkan yang muncul saat mendengar suara ambulans seusai ditinggal, Richa berusaha membangun ketegaran. Ia mengakui bahwa di tempat umum, ia sering berusaha menutupi rasa sedihnya dengan tawa. Namun, saat berada di lingkungan yang lebih intim, seperti di mobil bersama anak-anak, ia membiarkan perasaannya keluar. “Saya berusaha tampil kuat di depan orang lain, tapi di saat sendiri, saya bisa merasakan kesedihan yang tak terucapkan,” ujarnya.
Meski telah mencoba mengatur emosi, Richa masih merasa bahwa suara ambulans menjadi trigger yang tak bisa dihindari. Dalam beberapa kesempatan, ia menyebutkan bahwa suara sirene tersebut juga membuat anak-anaknya berusaha mengingat momen-momen indah yang pernah dirasakan bersama Gary. “Anak-anak telah memahami bahwa tiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, itu adalah bagian dari perjalanan kesedihannya,” jelasnya.
Momen Pemakaman yang Berkesan
Pemakaman Gary Iskak yang berlangsung di Makam Pusaka Karet, Jakarta, menjadi salah satu momen yang paling mengharukan bagi Richa. Suara ambulans yang terdengar saat rombongan mengantar jenazah ke tempat istirahat terakhir memicu kenangan akan hari-hari terakhir Gary. “Dalam perjalanan ke makam, suara sirene ambulans seusai ditinggal terus mengiringi setiap langkah. Rasanya seperti suara dari alam yang memanggilku kembali ke masa lalu,” ungkapnya.
Richa juga menyebutkan bahwa suara ambulans sering membangunkan kenangan tentang bagaimana Gary berjuang melawan penyakitnya. “Dari kala ia dilarikan ke rumah sakit sampai ke makam, ambulans selalu ada. Tiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, saya merasa seperti berada di sana kembali, di tengah kesedihan yang tak pernah berakhir,” katanya.
Sebagai pengusaha yang juga dikenal sebagai kekasih dari penyanyi legendaris, Richa mencoba menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang. Namun, suara sirene ambulans tetap menjadi pengingat bahwa kehilangan suami tercinta adalah bagian dari kehidupannya. “Saya mencoba beradaptasi dengan suara ambulans tersebut, tapi tak bisa hilang begitu saja dari ingatan,” katanya.
“Setiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, saya selalu merasa seperti memperhatikan kehidupan Gary dari jauh. Suara itu adalah bagian dari cerita hidup kita bersama,” kata Richa Novisha.
Perjalanan Emosi dalam Proses Penyesuaian
Proses penyesuaian dengan kehilangan Gary Iskak terasa berat, terutama karena suara ambulans yang terus mengingatkannya akan peristiwa itu. Richa menyebutkan bahwa ia sering merasa seperti terjebak dalam kenangan masa lalu, dan suara sirene menjadi bagian dari cerita yang tak bisa diputuskan. “Tiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, saya merasa seperti berada di tengah proses pemakaman yang masih berlangsung,” jelasnya.
Richa juga membagikan perasaan-perasaan yang dialaminya selama beberapa bulan terakhir. Ia menyebut bahwa suara ambulans tak hanya memicu rasa sedih, tetapi juga membuatnya mengingat bagaimana Gary menghadapi sakitnya dengan penuh ketegaran. “Ia tak pernah menyerah. Tiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, saya merasa bahwa kekuatannya tetap ada di sana, meski dalam bentuk kenangan,” katanya.
Dengan berbagai upaya, Richa mencoba menjaga kekuatan emosinya agar bisa terus berjuang bersama anak-anaknya. Meski suara ambulans masih menjadi pengingat berat, ia percaya bahwa itu adalah bagian dari perjalanan penyesuaian yang perlu dijalani. “Tiap dengar suara ambulans seusai ditinggal, saya bisa merasakan kehilangan yang tak pernah sirna, tapi juga cinta yang tetap mengalir,” pungkasnya.
