𝕏 f WA
News

Main Agenda: DPR Desak Edukasi Publik soal Risiko Galon Guna Ulang Tua

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Main Agenda: DPR Desak Edukasi Publik soal Risiko Galon Guna Ulang Tua

Main Agenda: DPR Berupaya Meningkatkan Edukasi Masyarakat Soal Risiko Galon Guna Ulang Tua

Main Agenda – Di akhir Juni lalu, anggota Komisi VII DPR RINovita Hardini memimpin upaya edukasi publik mengenai bahaya galon guna ulang yang sudah melewati masa pakainya. Ia menyoroti pentingnya masyarakat memahami risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat penggunaan galon berbahan polikarbonat yang dipakai terlalu lama. RINovita mengungkapkan bahwa banyak informasi yang disebarkan secara sengaja oleh industri air minum dalam kemasan (AMDK) untuk mengurangi kecemasan masyarakat, meski hal tersebut justru bisa membingungkan konsumen.

Konten Industri AMDK dan Narasi Publik

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dihadiri oleh perwakilan perusahaan AMDK, RINovita menyatakan bahwa sebagian besar konten edukasi yang beredar terkesan membenarkan penggunaan galon guna ulang tua. “Saya melihat ada konten yang mungkin dipesan oleh salah satu perusahaan AMDK yang menyampaikan masyarakat tetap tenang meskipun galon guna ulang sudah melampaui batas pakai,” ujar RINovita. Menurutnya, narasi ini kurang transparan dan bisa menyebabkan kesalahpahaman mengenai keamanan produk yang dijual.

Keluhan RINovita muncul setelah hasil penelitian dari lembaga kesehatan independen menunjukkan bahwa galon berbahan polikarbonat memiliki batas waktu penggunaan sekitar 3-5 tahun. Jika dipakai di luar batas tersebut, bahan kimia Bisphenol A (BPA) dapat bermigrasi ke dalam air minum, terutama ketika galon terpapar panas berulang kali. BPA diketahui berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan, seperti gangguan sistem endokrin, yang bisa memengaruhi perkembangan anak dan fungsi organ tubuh dewasa.

Menurut data yang dihimpun, sekitar 60% warga Jakarta menggunakan galon guna ulang dalam jangka waktu melebihi rekomendasi. Angka ini meningkat dari tahun ke tahun, dengan alasan utama biaya rendah dan kenyamanan penggunaan. Meski galon guna ulang masih bisa dipakai, RINovita menekankan bahwa konsumen perlu memperhatikan cara penggunaan dan jadwal penggantian wadah tersebut. “Main Agenda ini penting karena masyarakat perlu mengetahui bahwa galon yang sudah lama dipakai bisa berisiko, terutama jika tidak dibersihkan secara rutin,” tambahnya.

Upaya DPR untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

RINovita mengusulkan adanya kampanye edukasi lebih masif melalui media sosial, radio, dan acara televisi. Ia berharap kampanye ini bisa menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dipahami, seperti cara mengenali galon yang sudah berusia lama dan tanda-tanda kerusakan. “Main Agenda DPR adalah untuk memastikan masyarakat mendapat informasi yang akurat dan tidak disalahartikan,” jelas anggota dewan tersebut.

Dalam rangka memperkuat narasi ini, DPR berencana mengeluarkan panduan penggunaan galon guna ulang yang berisi peringatan mengenai efek jangka panjang dari penggunaan berlebihan. Panduan ini akan disebarkan ke seluruh daerah dan disertai penjelasan ilmiah mengenai mekanisme migrasi BPA serta dampaknya terhadap tubuh manusia. Selain itu, RINovita juga menyarankan pemerintah melakukan inspeksi berkala terhadap galon yang beredar di pasaran, terutama yang dipakai di rumah tangga.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Teknologi Pangan, galon yang sudah dipakai lebih dari 5 tahun berisiko mengandung residu BPA hingga 0,2 mg per liter air. Jumlah ini, meski terdengar kecil, bisa berdampak signifikan jika dikonsumsi secara rutin selama berbulan-bulan. “Main Agenda ini bukan hanya tentang kesadaran, tapi juga perlindungan konsumen dari efek kumulatif yang bisa terjadi,” tegas RINovita. Ia menambahkan bahwa galon guna ulang harus dipakai dengan bijak, termasuk menjaga kebersihan dan menggantinya secara berkala.

Sebagai langkah penunjang, DPR juga berencana bekerja sama dengan instansi terkait untuk mengadakan seminar nasional mengenai manfaat dan risiko galon guna ulang. Seminar ini diharapkan bisa menjadi ajang dialog antara produsen, konsumen, dan ahli kesehatan. RINovita mengatakan bahwa edukasi harus disampaikan dengan jelas, agar masyarakat tidak hanya mengandalkan narasi industri, tetapi juga informasi yang objektif.

Dengan meningkatkan kehati-hatian dalam penggunaan galon, RINovita menegaskan bahwa keamanan air minum bisa terjamin. Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang lebih ketat terkait standar galon guna ulang, termasuk penggunaan bahan-bahan alternatif yang lebih aman. “Main Agenda DPR adalah untuk memastikan bahwa galon yang dijual tidak hanya nyaman, tetapi juga sehat bagi pengguna,” tutup RINovita. Ia berharap masyarakat mulai sadar bahwa galon yang sudah tua bisa menjadi sumber masalah, jika tidak dikelola dengan tepat.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *