𝕏 f WA
Jatim Terkini

Visit Agenda: Puluhan Tahun Diterjang Rob, Siswa SD di Surabaya Berangkat Sekolah Digendong Orang Tua

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Visit Agenda: Puluhan Tahun Diterjang Rob, Siswa SD di Surabaya Berangkat Sekolah Digendong Orang Tua

Visit Agenda: Banjir Rob Surabaya, Siswa SD Harus Digendong Saat Berangkat Sekolah

Visit Agenda – SURABAYA – Banjir rob yang melanda kawasan Kalianak, Krembangan, Surabaya, telah mengubah rutinitas warga sekitar selama puluhan tahun. Fenomena ini tidak hanya mengganggu kegiatan sehari-hari, tetapi juga mengharuskan para siswa SD di SD Yayasan Karya Putra berangkat dan pulang sekolah dengan digendong orang tua. Meski kondisi ini sudah menjadi kebiasaan, para siswa tetap berusaha menyesuaikan dengan menggunakan sandal dan melepas sepatu untuk memudahkan gerak.

Banjir rob di Surabaya sering terjadi setiap musim hujan, dan SD Yayasan Karya Putra menjadi salah satu sekolah yang paling terdampak. Sejak didirikan pada tahun 1998, sekolah ini telah menghadapi tantangan serupa hampir setiap bulan, terutama di daerah yang rawan genangan air laut. Dengan curah hujan tinggi, air bisa naik hingga setinggi mata kaki, menyulitkan akses ke lokasi sekolah. Untuk mengatasi ini, siswa diperbolehkan membawa sandal ke sekolah, sementara sebagian besar pergi dan pulang dengan digendong orang tua. Visit Agenda menyebutkan bahwa kebijakan ini telah menjadi bagian dari rutinitas selama bertahun-tahun.

Fenomena Banjir Rob dan Dampak Pada Pendidikan

β€œDua kelas paling terkena dampak dari banjir rob ini, dengan genangan air mencapai setinggi mata kaki. Namun, kami tidak meliburkan siswa karena pembelajaran harus tetap berjalan, terutama selama masa MPLS,” jelas Yuli, Rabu (15/7).

Menurut Yuli, banjir rob bukan lagi sesuatu yang baru bagi sekolah ini. Justru, SD Yayasan Karya Putra telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang rentan banjir. Meski sekolah terus berupaya memperbaiki infrastruktur, seperti menambahkan saluran drainase dan membuat penahan air, keterbatasan dana masih menghambat upaya pengendalian yang lebih efektif. Visit Agenda mencatat bahwa warga setempat merasa kesal dengan kondisi ini, tetapi tetap optimis karena sekolah tetap menjadi pusat pendidikan yang vital.

Sejumlah siswa mengungkapkan bahwa berangkat ke sekolah dengan digendong orang tua bukan hanya pengalaman biasa, tetapi juga menimbulkan rasa prihatin. “Saya kadang merasa malu karena harus digendong, tapi itu lebih baik daripada terlantar di jalan,” kata salah satu siswa. Fenomena ini mencerminkan betapa besar tantangan yang dihadapi oleh komunitas pendidikan di Surabaya dalam menghadapi bencana alam. Visit Agenda berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah setempat untuk memperkuat sistem drainase dan memperbaiki jalan yang sering tergenang.

Koordinasi dengan Warga dan Pemerintah

SD Yayasan Karya Putra tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Selama ini, sekolah bekerja sama dengan warga sekitar untuk merencanakan jadwal berangkat dan pulang yang lebih efisien. Dengan bantuan orang tua, siswa bisa menghindari risiko tertimpa air saat banjir rob terjadi. Visit Agenda juga mencatat bahwa pemerintah daerah sedang mempertimbangkan peningkatan infrastruktur di wilayah Kalianak, termasuk pembangunan tanggul dan pengerasan jalan.

Selain itu, ada upaya pendidikan di tingkat keluarga untuk mengajarkan anak-anak adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Orang tua terus mengingatkan anak-anak untuk selalu membawa sandal dan berpakaian yang tahan air. Visit Agenda mengapresiasi upaya ini karena menunjukkan kerja sama antara sekolah, warga, dan keluarga dalam menghadapi tantangan. Meski demikian, pengakuan lebih luas dari masyarakat dan pemerintah diperlukan agar situasi ini tidak terus berlangsung.

Sebagai bagian dari Visit Agenda, artikel ini bertujuan memberikan informasi terkini tentang dampak banjir rob terhadap kegiatan belajar mengajar di Surabaya. Selain itu, pembaca juga bisa memperoleh wawasan tentang keterlibatan warga dalam menyelesaikan masalah ini. Dengan demikian, Visit Agenda berharap agar situasi yang dihadapi siswa SD Yayasan Karya Putra bisa menjadi bahan refleksi untuk meningkatkan kesiapan masyarakat terhadap bencana alam di masa depan.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *