𝕏 f WA
News

Aliran Dana Global Mengalir ke Aset Berbasis Dolar AS, Rupiah Makin Terimpit

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Aliran Dana Global Mengalir ke Aset Berbasis Dolar AS, Rupiah Makin Terimpit
Foto : James Lopez - beritanaya.com

Rupiah Tertekan di Tengah Arus Dana Global Menuju Aset Dolar AS

Beritanaya.com – JAKARTA — Mata uang rupiah mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan hari Kamis, bergerak turun 19 poin atau setara 0,11 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini tercatat di level Rp 17.936 per USD, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp 17.917 per USD. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang semakin terasa pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah Indonesia.

Tiffani Safinia dari tim Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) mengidentifikasi beberapa faktor yang mendorong aliran dana global tetap berorientasi pada aset berbasis dolar AS. Salah satu penyebab utamanya adalah sentimen global yang masih kuat mendukung dolar AS, didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama.

Pelemahan rupiah terutama dipengaruhi sentimen global, yakni masih kuatnya dolar AS akibat ekspektasi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Menurut laporan ICDX, pasar saat ini masih memperkirakan setidaknya akan terjadi satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Sementara itu, bank sentral AS diprediksi akan menjaga suku bunga tetap pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung pekan depan. Langkah ini diambil sambil memantau perkembangan inflasi serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Faktor Domestik dan Prospek Rupiah

Dari perspektif domestik, Tiffani menyoroti keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Langkah tersebut menunjukkan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Namun, menurutnya, penguatan rupiah masih memiliki batas karena selisih suku bunga dengan AS belum cukup menarik minat arus modal asing.

Namun, penguatan rupiah masih terbatas karena selisih suku bunga dengan AS belum cukup menarik arus modal asing, di tengah permintaan valas domestik yang masih tinggi.

Kombinasi antara permintaan valas domestik yang tinggi dan ekspektasi suku bunga global menjadi tantangan bagi rupiah dalam jangka pendek. Meskipun demikian, kebijakan BI yang konsisten memberikan landasan yang kuat untuk stabilitas ekonomi domestik.

Leave a comment 💬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *