𝕏 f WA
News

Main Agenda: Menaker Yassierli Sebut Kolaborasi Lintas Pihak Kunci Penguatan Daya Saing Tenaga Kerja

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Main Agenda: Menaker Yassierli Sebut Kolaborasi Lintas Pihak Kunci Penguatan Daya Saing Tenaga Kerja

Menaker Yassierli Sebut Kolaborasi Lintas Pihak Kunci Penguatan Daya Saing Tenaga Kerja

Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda kebijakan ketenagakerjaan nasional, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) 2026 di Jakarta, Selasa (23/6), ia mengungkap bahwa upaya ini menjadi prioritas utama untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin dinamis.

Fokus Kebijakan Ketenagakerjaan

Main Agenda yang diusung Yassierli mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci untuk menjawab permintaan pasar yang berkembang pesat. Menurutnya, kebijakan yang diambil harus selaras dengan perubahan struktur industri, terutama di bidang teknologi dan digital. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak hanya berfokus pada jumlah, tetapi juga pada kualitas,” jelas Menaker. Ia menyoroti bahwa program pelatihan dan sertifikasi harus beradaptasi dengan kebutuhan industri modern, termasuk pengembangan keterampilan masa depan (future skills) yang relevan.

Kolaborasi lintas pihak, kata Yassierli, menjadi pilar penting dalam mewujudkan ekosistem kerja yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini melibatkan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan organisasi buruh. “Tanpa kerja sama yang terpadu, sulit mencapai target peningkatan daya saing tenaga kerja,” ujarnya. Ia juga menekankan peran lembaga pemerintah dalam menyediakan program pelatihan yang terjangkau, seperti pelatihan digital dan keterampilan vokasi, untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja.

Tantangan Global dan Lokal

Dalam Main Agenda Rakernas KSPI 2026, Yassierli menyebut bahwa tantangan utama dihadapi Indonesia meliputi persaingan global, pergeseran teknologi, dan keterbatasan akses pendidikan. “Dunia kerja sekarang tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga adaptasi terhadap perubahan ekonomi global,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa angkatan kerja yang terus bertambah jumlahnya membutuhkan strategi yang lebih efektif agar tidak hanya terjebak dalam pasar tenaga kerja informal.

β€œKita harus berpikir lebih jauh. Tantangan yang kita hadapi tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan global. Kolaborasi lintas pihak adalah solusi yang paling efektif,” ujar Yassierli. Ia menambahkan bahwa penguatan kerja sama antara pemerintah dan industri akan mempercepat transformasi SDM menuju sumber daya manusia berkualitas tinggi.

Menaker juga menyoroti pentingnya pengintegrasian pendidikan vokasi dengan program kerja. “Sekolah dan universitas harus bekerja sama dengan perusahaan untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar,” tegasnya. Dengan pendekatan ini, tenaga kerja tidak hanya siap bekerja, tetapi juga bisa mengembangkan keterampilan yang diharapkan oleh sektor industri. Selain itu, Yassierli berharap agar pemerintah dan lembaga pengusaha dapat mengurangi kesenjangan antara pelatihan yang tersedia dan kebutuhan pasar.

Strategi Kolaborasi yang Efektif

Main Agenda kerja sama lintas pihak diharapkan mendorong inovasi dalam program pemberdayaan tenaga kerja. Menaker Yassierli menyebut bahwa pemerintah akan berupaya membangun platform kolaborasi untuk menghubungkan lembaga pendidikan, pengusaha, dan pekerja. “Kita perlu menciptakan sistem yang saling mendukung, baik melalui pengadaan pelatihan berkelanjutan maupun insentif bagi perusahaan yang aktif dalam program pengembangan SDM,” jelasnya. Strategi ini, menurutnya, bisa menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Kolaborasi tersebut juga mencakup penguatan pengawasan terhadap perlindungan pekerja, seperti peningkatan upah minimum dan penjaminan kondisi kerja yang adil. Yassierli menegaskan bahwa Main Agenda ini tidak hanya mengenai pelatihan, tetapi juga tentang memastikan bahwa setiap kebijakan ketenagakerjaan mencerminkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. “Kita harus mengukuhkan komitmen untuk membuat kebijakan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Dengan Main Agenda yang diusung, pemerintah berharap bisa mengatasi tantangan ekonomi global sekaligus memperkuat ekosistem ketenagakerjaan nasional. Kolaborasi lintas pihak, sebagai inti dari strategi ini, diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang siap menghadapi perubahan teknologi dan tren industri. Langkah ini akan menjadi dasar dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *