Panen Padi Biosalin di Batang Capai 166,5 Ton, Lahan Salin Mulai Bernilai Ekonomi
Beritanaya.com – Kabupaten Batang mencatat hasil penting dari pengembangan pertanian di kawasan dengan tingkat salinitas tinggi. Panen raya Padi Biosalin yang berlangsung pada Jumat, 18 September, menghasilkan sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP) dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,3 miliar.
Capaian tersebut lahir dari kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN, Subholding Gas Pertamina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Batang. Kegiatan ini dijalankan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berfokus pada pengembangan varietas Padi Biosalin dan minapadi salin untuk wilayah dengan kondisi tanah berkadar garam tinggi.
Menjawab Tantangan Lahan Berkadar Garam Tinggi
Budidaya padi di lahan pesisir dan area yang dipengaruhi salinitas kerap menghadapi hambatan besar. Kandungan garam dapat membatasi pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, serta membuat sebagian lahan tidak dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan Padi Biosalin menjadi salah satu upaya untuk membuka kembali peluang produksi pangan pada kondisi tersebut.
Hasil panen di Batang memperlihatkan bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat dikembangkan menjadi area budidaya bernilai ekonomi. Selain menghasilkan gabah, program ini juga diarahkan untuk menciptakan manfaat sosial bagi warga melalui aktivitas pertanian dan peluang kerja di tingkat lokal.
“Pengembangan Padi Biosalin merupakan bagian dari komitmen PGN menjalankan program tanggung jawab sosial CSR dan lingkungan yang menciptakan manfaat ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat,” ujar Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman.
Fajriyah menilai hasil di Batang menjadi gambaran bahwa inovasi pertanian dan kerja sama lintas pihak mampu memberi fungsi baru bagi lahan yang sebelumnya belum menghasilkan secara maksimal.
“Panen di Batang menunjukkan lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan membuka lapangan kerja melalui inovasi dan kolaborasi,” kata Fajriyah Usman.
Bagian dari Pengembangan di Tiga Wilayah Pesisir
Program di Batang tidak berdiri sendiri. PGN dan BRIN telah mengembangkan Padi Biosalin di beberapa kawasan pesisir sejak Desember 2024. Hingga kini, total pengembangannya telah mencapai kurang lebih 232 hektare yang tersebar di Semarang, Jepara, dan Batang.
Semarang menjadi salah satu lokasi awal pengembangan. Budidaya dimulai pada Desember 2024 di pesisir Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, dengan luas awal sekitar 20 hektare. Pengembangan secara mandiri kemudian terus bertambah hingga mencapai kurang lebih 180 hektare.
Perluasan area tersebut menunjukkan adanya ruang penerapan budidaya padi yang disesuaikan dengan karakter lingkungan pesisir. Setiap wilayah tetap memiliki kondisi lahan yang berbeda, sehingga penerapan varietas dan pola budidaya perlu mengikuti kebutuhan setempat. Kolaborasi antara lembaga riset, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi unsur penting dalam proses itu.
El Niño Sangat Kuat dan Pentingnya Ketahanan Pertanian
Panen Padi Biosalin di Batang juga berlangsung dalam situasi iklim yang patut menjadi perhatian sektor pertanian. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat rata-rata indeks ENSO tiga bulanan pada periode Juli sampai September 2026 berada di angka 2,6. Angka tersebut masuk dalam kategori El Niño sangat kuat.
Kondisi El Niño dapat memengaruhi pola cuaca dan ketersediaan air di sejumlah daerah. Dalam konteks pertanian, perubahan iklim dan tekanan lingkungan membuat pengembangan varietas yang sesuai dengan kondisi spesifik lahan semakin relevan. Lahan dengan salinitas tinggi membutuhkan pendekatan yang berbeda dari sawah biasa, baik dalam pemilihan tanaman maupun pengelolaannya.
Padi Biosalin menawarkan pilihan bagi kawasan yang menghadapi tantangan kadar garam. Program ini bukan hanya berbicara tentang hasil panen satu musim, melainkan juga tentang upaya memanfaatkan potensi lahan yang selama ini belum optimal. Ketika lahan kembali dapat ditanami, manfaatnya dapat dirasakan melalui aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Kolaborasi untuk Pemanfaatan Lahan Pesisir
Keterlibatan BRIN memberi landasan riset dalam pengembangan varietas dan budidaya Padi Biosalin. Sementara itu, pemerintah daerah berperan dalam mendukung penerapan program di wilayahnya, sedangkan PGN menjalankan dukungan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pola kerja sama semacam ini penting karena persoalan pertanian di kawasan salin tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan pengetahuan ilmiah, pendampingan di lapangan, keterlibatan petani, serta dukungan kelembagaan agar pengembangan budidaya bisa terus berjalan.
Nilai ekonomi sebesar Rp1,3 miliar dari panen 166,5 ton GKP di Batang memberi gambaran konkret mengenai potensi pemanfaatan lahan salin. Hasil itu sekaligus menjadi dorongan untuk melihat kawasan pesisir bukan semata sebagai area dengan keterbatasan, tetapi sebagai wilayah yang dapat dikembangkan melalui inovasi pertanian yang tepat.
Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan menjaga pengelolaan budidaya, memperluas manfaat bagi masyarakat, dan menyesuaikan praktik pertanian dengan tantangan iklim. Panen raya di Batang menandai salah satu langkah dalam pengembangan pertanian adaptif yang memanfaatkan riset untuk memperkuat nilai ekonomi di tingkat lokal.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kolaborasi PGN BRIN dan Pemkab Batang?
Kolaborasi PGN BRIN dan Pemkab Batang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kolaborasi PGN BRIN dan Pemkab Batang matter?
Kolaborasi PGN BRIN dan Pemkab Batang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
