Latest Program: Proyek IFSAR BIG Didominasi Vendor Asing
Latest Program – Jakarta, JPNN.com – Proyek pengadaan data geospasial dasar dan peta rupabumi Indonesia (RBI) skala 1:5.000 tahun 2024, yang memiliki nilai anggaran mencapai USD 20 juta, kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerhati kebijakan dan pemangku kepentingan. Proyek ini tidak hanya menarik perhatian karena jumlah dana yang besar, tetapi juga karena membuka pertanyaan tentang bagaimana SDM lokal di Indonesia dapat memainkan peran lebih aktif dalam pengelolaan data strategis nasional, sementara vendor asing tampak menjadi pelaku utama dalam proses teknis.
Detil Proyek IFSAR BIG dan Peran Vendor Asing
Proyek IFSAR BIG, singkatan dari Integrated Field Survey and Base Geospatial Information (BIG), merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas peta topografi nasional. Menurut ringkasan proyek, pekerjaan tahap awal dilaksanakan di Sulawesi, yang mencakup area sekitar 180.000 kilometer persegi atau sekitar 10 persen dari total wilayah daratan Indonesia. Kontrak ini diberikan kepada Intermap Technologies, sebuah perusahaan asing yang berbasis di Denver, Amerika Serikat, dengan nilai mencapai USD 20 juta. Perusahaan ini bekerja sama dengan PT Pratama Persada Airborne (PPA), mitra lokal yang menjadi bagian dari ekosistem pengadaan data geospasial.
Program IFSAR BIG bertujuan mendukung kebijakan Satu Peta (One Map Policy), yang dirancang untuk mengintegrasikan data geospasial dari berbagai sumber dan tingkat kepresisian. Proyek ini diharapkan menjadi pilar dalam menciptakan basis data yang akurat dan konsisten untuk kebutuhan pembangunan daerah, tata kota, serta manajemen lingkungan. Namun, meski memiliki target besar, keberhasilan program ini juga tergantung pada kualitas kolaborasi antara vendor asing dan SDM lokal, serta keberlanjutan mekanisme pengawasan.
Kontroversi dan Pertanyaan tentang Kedaulatan Data
Pemilihan Intermap Technologies sebagai pemenang kontrak ini memicu kekhawatiran tentang ketergantungan pada teknologi dan data eksternal. Sejumlah pihak menyoroti bahwa proses pengolahan data IFSAR dilakukan di luar wilayah hukum Indonesia, dengan hasil akuisisi dikembalikan setelah selesai diintegrasikan di Amerika Serikat. Ini mengisyaratkan potensi risiko terhadap keamanan data strategis nasional, terutama dalam konteks kebijakan digital dan ekspor informasi yang bisa memengaruhi alur informasi geospasial.
Ketertarikan terhadap proyek ini semakin meningkat karena data geospasial menjadi dasar untuk pengambilan keputusan di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur hingga manajemen bencana. Proyek IFSAR BIG dianggap sebagai bagian penting dari ekosistem data nasional, tetapi sejumlah kalangan menilai bahwa SDM lokal lebih banyak berperan sebagai penonton, sementara perusahaan asing menguasai proses teknis utama. Pertanyaan tentang bagaimana perusahaan dalam negeri bisa meningkatkan partisipasinya dalam proyek ini menjadi isu yang perlu diperhatikan.
Para ahli mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas SDM lokal tidak hanya penting untuk keberlanjutan program, tetapi juga untuk memastikan bahwa data geospasial Indonesia bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam konteks kebijakan lokal. Dengan adanya proyek seperti IFSAR BIG, ada harapan bahwa pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas peta nasional dapat menjadi bukti keberhasilan kolaborasi antar-sektor. Namun, tantangan utamanya terletak pada bagaimana keterlibatan SDM lokal dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan efisiensi dan kualitas teknis.
Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) memang dirancang untuk mengintegrasikan data geospasial dari berbagai institusi, tetapi proyek IFSAR BIG juga menjadi contoh nyata bagaimana penggunaan teknologi asing bisa menjadi acuan utama. Dengan nilai anggaran besar, program ini memberikan peluang bagi perusahaan lokal untuk berkembang, selama mereka bisa memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Kemitraan dengan Intermap Technologies diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem geospasial yang lebih inklusif.
Sebagai bagian dari Latest Program, proyek IFSAR BIG menunjukkan bagaimana data geospasial bisa menjadi kunci dalam mempercepat transformasi digital Indonesia. Namun, untuk menjaga kedaulatan informasi, perlu ada peningkatan investasi dalam pendidikan, pelatihan, dan pengembangan SDM lokal. Dengan lebih banyak peran aktif dari tenaga ahli dalam negeri, proyek seperti ini bisa menjadi pembelajaran untuk kebijakan geospasial masa depan. Pemangku kepentingan menilai bahwa ini adalah langkah penting dalam mencapai visi satu peta yang lebih representatif dan mandiri.
