𝕏 f WA
Bali Terkini

Solving Problems: Joged Bumbung Duta Badung Pukau Penonton PKB, Tepis Stigma Negatif

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Solving Problems: Joged Bumbung Duta Badung Pukau Penonton PKB, Tepis Stigma Negatif

Joged Bumbung Badung: Solusi Kreatif untuk Tepis Stigma Negatif

Solving Problems – Dalam upaya menyelesaikan masalah kultural dan sosial, pertunjukan Joged Bumbung dari Banjar Selat, Desa Sobangan, Mengwi, Kabupaten Badung, menjadi perhatian publik di acara Panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Dengan menampilkan tradisi tari yang berbeda dari biasanya, para seniman ini tidak hanya memukau penonton tetapi juga mengubah persepsi negatif terhadap Joged Bumbung melalui karya-karya yang penuh makna. Performa ini dianggap sebagai bagian dari solusi masalah dalam memperkenalkan seni tradisional Bali ke panggung internasional.

Acara yang digelar di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, ini menyajikan lima repertoar yang terintegrasi secara harmonis. Dalam karya pertama, “Nilapati”, pesan filosofis tentang ritual Ngaben menjadi fokus utama. Penata tabuh I Putu Sukadana memadukan musik bambu dengan irama Baleganjur untuk menciptakan suasana sakral yang menggambarkan makna hidup dan kematian dalam budaya Bali. Karya ini menunjukkan bagaimana seni tradisional bisa menjadi alat untuk menyelesaikan masalah kognitif masyarakat tentang keunikan dan keberagaman budaya.

Perjalanan Emosi Melalui Seni Tradisional

Pertunjukan berlanjut dengan “Tari Ulah Alih Ala”, yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dan perjuangan manusia dalam menghadapi tantangan. Bagian ini menyajikan narasi yang memperlihatkan bagaimana seni bisa menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat, seperti kesenjangan antara tradisi dan modernisasi. Selanjutnya, “Tabuh Pepeson Semara Ratih” membawa suasana romantis yang memberi kesan pribadi dan menggambarkan harmoni antara kehidupan spiritual dan duniawi.

β€œNilapati merupakan komposisi tabuh kreasi Joged Bumbung yang mengangkat filosofi dan puncak ritual Pitra Yadnya atau Ngaben,” kata Sukadana.

Karya ketiga, “Kumbang Ngisep Sari”, menyoroti keceriaan alam dan keharmonisan dalam kehidupan komunitas. Dalam pertunjukan ini, seni tradisional dianggap sebagai bentuk solusi masalah dalam menjaga keakraban dan keberlanjutan budaya lokal. Terakhir, “Sunar Sunari” membawa penutup yang tenang, mencerminkan filosofi ketenangan dan keharmonisan yang merupakan bagian dari proses menyelesaikan masalah dalam kehidupan manusia.

Artis Lokal dan Pertunjukan yang Kreatif

Sekeha Joged Akah Lucky, yang merupakan wakil Kabupaten Badung di acara ini, menunjukkan keahlian dalam menggabungkan tari dan musik secara dinamis. Dengan teknik gerak yang unik dan paduan alunan musik yang sesuai, pertunjukan ini menjadi contoh bagaimana seni tradisional bisa diadaptasi untuk menyelesaikan masalah dalam menarik minat generasi muda. Selain itu, kehadiran duta Kabupaten Jembrana dalam pertunjukan ini juga menciptakan ruang dialog antarkabupaten untuk memperkuat identitas budaya Bali secara keseluruhan.

Pertunjukan ini tidak hanya memperlihatkan keindahan seni tapi juga menyelesaikan masalah stigma yang sering menghiasi perspektif masyarakat terhadap Joged Bumbung. Dengan keahlian teknis dan penampilan yang penuh makna, seniman-seniman Badung berhasil menjadikan seni sebagai alat untuk menyelesaikan masalah dalam menjaga keberlanjutan budaya. Hasilnya, penonton merasa terkesan dan lebih terbuka terhadap bentuk seni tradisional yang lain.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *