𝕏 f WA
Bali Terkini

Main Agenda: Koster Minta REI Tiru Konsep Hunian Hemat Lahan Ala Jepang, Sebut Bali Kecil

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Main Agenda: Koster Minta REI Tiru Konsep Hunian Hemat Lahan Ala Jepang, Sebut Bali Kecil

Koster Ajak REI Tiru Konsep Hunian Hemat Lahan Ala Jepang

Main Agenda – Denpasar, Bali – Main Agenda, Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti pentingnya inovasi dalam desain hunian untuk mengatasi keterbatasan lahan di Bali. Dalam kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Real Estate Indonesia (REI) Bali yang berlangsung Rabu (8/7) lalu, Koster meminta para pengembang properti untuk mengadopsi model hunian hemat ruang yang bisa dipadukan dengan konsep Jepang. Hal ini bertujuan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, terutama di wilayah dengan padat penduduk seperti Denpasar.

Permasalahan Pengurangan Lahan di Bali

Bali, dengan luas 5.590 km², terus menghadapi tantangan pengurangan lahan yang signifikan. Terutama di Kota Denpasar, lahan yang semakin langka menjadi perhatian utama dalam pembangunan kota. Koster menjelaskan bahwa pertumbuhan populasi yang pesat memaksa pengembangan perumahan untuk beradaptasi. “Keterbatasan lahan membuat kita harus berpikir kreatif dalam memenuhi kebutuhan hunian,” katanya.

Dalam pidatonya, Koster menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat perlu dikedepankan. Ia berargumen bahwa model hunian dari Jepang, yang dikenal dengan sistem ruko terbuka dan konsep kecil tapi maksimal, bisa menjadi referensi. Konsep ini tidak hanya menghemat ruang tetapi juga memberikan ruang untuk taman dan area hijau yang vital bagi kesehatan fisik dan mental warga.

Strategi Perumahan Masa Depan

Koster menyampaikan bahwa desain perumahan masa depan harus fleksibel, baik untuk daerah perkotaan maupun pedesaan. “Kita perlu menciptakan hunian yang tidak hanya bisa menampung populasi yang tinggi, tetapi juga tetap menjaga kualitas hidup dan kelestarian lingkungan,” ujarnya. Menurutnya, model hunian Jepang yang menekankan efisiensi lahan dapat menjadi jawaban untuk masalah ini.

Dalam konteks Main Agenda, Koster mengungkapkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pengembang properti adalah kunci sukses. “Perlu ada rencana kebijakan yang berkelanjutan, dan REI bisa menjadi mitra strategis dalam mewujudkan ini,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa pengembangan hunian ramah lingkungan akan memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal dan pengurangan polusi.

Salah satu ciri utama hunian hemat lahan di Jepang adalah penggunaan ruang secara optimal melalui desain terbuka dan multi-fungsi. Contohnya, ruko yang dirancang dengan sistem “vertical living” memungkinkan penggunaan lahan vertikal untuk memperluas ruang hunian. Koster mengatakan konsep ini bisa diterapkan di Bali, terutama di kawasan perkotaan yang padat.

Dalam Main Agenda, Koster juga menyoroti pentingnya edukasi bagi masyarakat. Ia menyarankan agar warga Bali lebih memahami manfaat hunian hemat ruang, seperti mengurangi biaya konstruksi dan meningkatkan kenyamanan hidup. “Jika kita bisa menerapkan konsep ini secara luas, Bali akan lebih siap menghadapi tantangan urbanisasi,” tegasnya. Ia berharap REI bisa menjadi penggerak utama dalam perubahan paradigma perumahan.

Koster menambahkan bahwa keberhasilan model hunian ini tergantung pada kesadaran kolektif. “Main Agenda kita adalah menciptakan solusi yang bisa berdampak jangka panjang, bukan sekadar keuntungan jangka pendek,” ujarnya. Dengan mengadopsi pendekatan seperti Jepang, Bali dapat menjadi contoh kota yang mandiri dan berkelanjutan dalam pengelolaan lahan.

Leave a comment 💬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *