News

Jadi Pembicara Seminar di PTIQ Jakarta, Hasan Nasbi: Jadilah Orang Biasa yang Luar Biasa Kualitasnya

Jadi Pembicara Seminar di PTIQ Jakarta, Hasan Nasbi: Jadilah Orang Biasa yang Luar Biasa Kualitasnya
Foto : Susan Jones - beritanaya.com

Hasan Nasbi Ajak Mahasiswa PTIQ Memaknai Kepemimpinan lewat Kualitas Diri

Beritanaya.com – Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta mendapat ruang refleksi tentang kepemimpinan, organisasi, dan kesiapan menghadapi masa depan dalam Seminar Kepemimpinan Mahasiswa yang berlangsung pada Senin, 28 September 2026. Kegiatan ini digelar pukul 09.00 hingga 12.00 WIB di Ruang Gedung Baru Ma’had lantai 2 Universitas PTIQ Jakarta.

Seminar tersebut mengusung tema “Mahasiswa Hari Ini, Pemimpin Esok Hari: Menyiapkan Kepemimpinan Muda dari Ruang Organisasi”. Acara diselenggarakan Senat Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta melalui Kabinet Berdampak sebagai wadah untuk membicarakan peran mahasiswa dalam membangun kapasitas kepemimpinan sejak berada di lingkungan kampus.

Dalam forum itu, Hasan Nasbi, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, tampil sebagai pembicara kunci. Ia hadir bersama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., yang menjabat Rektor Universitas PTIQ Jakarta sekaligus Menteri Agama RI.

Ajakan untuk Bersikap Realistis

Hasan Nasbi memilih membuka materi dengan pendekatan yang tidak semata-mata membangkitkan euforia. Ia menyampaikan penegasan awal bahwa pesannya bukan untuk mengurangi ambisi atau mematikan cita-cita mahasiswa, melainkan mengajak peserta memandang perjalanan hidup secara lebih membumi.

Gagasan tersebut menjadi inti materi yang ia bawakan dengan judul “Menjadi Orang Biasa yang Berkualitas: Fondasi Peradaban.” Dalam pandangannya, kualitas seseorang tidak harus selalu ditunjukkan melalui tuntutan untuk menjadi sosok paling istimewa. Kepemimpinan juga dapat tumbuh dari kebiasaan menjalankan peran secara sungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan konsisten.

“Menjadi Orang Biasa yang Berkualitas: Fondasi Peradaban.”

Pesan itu relevan bagi mahasiswa yang tengah aktif dalam organisasi. Ruang organisasi kampus bukan hanya tempat menyusun program kerja atau menjalankan kepanitiaan, tetapi juga arena untuk belajar mendengar, menyelesaikan perbedaan, membagi tanggung jawab, dan menjaga komitmen terhadap tujuan bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kepemimpinan sering kali tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan formal. Seseorang dapat menunjukkan kepemimpinan melalui kedisiplinan, kemampuan menyelesaikan amanah, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan menghargai kerja orang lain. Nilai-nilai seperti itu dapat menjadi modal penting bagi mahasiswa saat memasuki dunia profesional maupun kehidupan sosial yang lebih luas.

Merujuk Dua Pidato Kelulusan

Untuk memperkuat pemikirannya, Hasan Nasbi mengangkat dua pidato kelulusan dari Amerika Serikat. Salah satunya adalah pidato Anthony Corvino di Universitas Binghamton pada 2009, yang berjudul “Average is the New Exceptional”. Ia juga merujuk pidato David McCullough Jr. di Wellesley High School dengan judul “You Are Not Special”.

Kedua rujukan tersebut mengarah pada refleksi bahwa gagasan tentang keistimewaan tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, mahasiswa dapat menjadikan kemampuan, pendidikan, dan kesempatan yang dimiliki sebagai dorongan untuk memperbaiki kualitas diri dan memberi manfaat di lingkungan sekitarnya.

Pesan mengenai kualitas diri juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pencapaian tidak selalu berlangsung secara instan. Kemampuan memimpin dibentuk melalui proses: menghadapi kesalahan, menerima kritik, mengelola kegagalan, serta terus belajar dari pengalaman. Dalam konteks organisasi mahasiswa, proses tersebut dapat muncul saat merancang kegiatan, bekerja dalam tim, atau mengambil keputusan pada situasi yang tidak mudah.

Tokoh Akademik dan Aktivis Muda Hadir

Selain Hasan Nasbi dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., seminar ini turut dihadiri sejumlah tokoh dari lingkungan akademik dan gerakan kepemudaan. Mereka adalah Assoc. Prof. Dr. Baeti Rohman, M.Pd., M.A., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, serta Assoc. Prof. Dr. K.H. Ali Nurdin, M.A., yang menjabat Wakil Rektor III Universitas PTIQ Jakarta.

Hadir pula Pangeran Mangkubumi, S.H., CMLC, Founder Generasi Emas Institute, dan Redza Sutiara Akbar, M.Pd., Presidium Youth Collaboration Movement. Kehadiran para tokoh tersebut memperluas sudut pandang peserta mengenai hubungan antara pendidikan, kepemimpinan, kolaborasi, dan pengembangan generasi muda.

Seminar kepemimpinan di kampus memiliki arti penting karena mahasiswa berada pada masa pembentukan cara berpikir dan karakter. Organisasi dapat menjadi tempat untuk menguji gagasan, belajar bekerja bersama orang dengan pandangan berbeda, dan memahami bahwa hasil yang baik biasanya lahir dari kerja kolektif.

Bagi mahasiswa PTIQ Jakarta, materi tentang menjadi pribadi biasa dengan mutu yang luar biasa dapat menjadi ajakan untuk tidak terjebak pada tuntutan pengakuan semata. Yang lebih penting adalah membangun kompetensi, menjaga integritas, dan menghadirkan kontribusi nyata melalui peran yang dijalankan.

Dengan fondasi tersebut, ruang organisasi dapat menjadi tempat pembelajaran yang lebih bermakna. Mahasiswa bukan hanya disiapkan untuk memegang posisi kepemimpinan di masa depan, tetapi juga untuk menjalankan tanggung jawab secara matang, rendah hati, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Frequently Asked Questions

What is Jadi Pembicara Seminar di PTIQ Jakarta?

Jadi Pembicara Seminar di PTIQ Jakarta is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jadi Pembicara Seminar di PTIQ Jakarta matter?

Jadi Pembicara Seminar di PTIQ Jakarta matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a comment 💬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *