News

Lindungi Karya Merawat Warisan, Aquaproof Ajak Influencer Membatik Bersama

Lindungi Karya Merawat Warisan, Aquaproof Ajak Influencer Membatik Bersama
Foto : Susan Brown - beritanaya.com

Aquaproof Ajak Kreator Konten Mengenal Proses Membatik di Trusmi

Beritanaya.com – Upaya mengenalkan batik kepada generasi muda dilakukan Aquaproof melalui kegiatan membatik bersama para influencer dan kreator konten di Cirebon. Acara bertajuk Aquaproof Membatik Bersama Influencer tersebut berlangsung di Sanggar Batik Katura, kawasan Trusmi, Cirebon, pada 20 Oktober 2026.

Sebanyak 20 peserta dari Cirebon dan wilayah sekitarnya mengikuti kegiatan ini untuk merasakan langsung tahapan pembuatan batik. Mereka tidak hanya melihat hasil akhir kain batik, tetapi juga mempelajari pekerjaan detail yang membentuk setiap motif di atas kain.

Kegiatan itu menjadi bagian dari kampanye Aquaproof Melindungi Karya, Merawat Warisan. Melalui kampanye tersebut, masyarakat diajak memberi perhatian pada keberlanjutan warisan budaya Indonesia, termasuk batik yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.

Mengenal Tahap demi Tahap Pembuatan Batik

Di Sanggar Batik Katura, peserta dibimbing untuk memahami proses membatik sejak awal. Kegiatan dimulai dengan membuat atau menggambar pola, dilanjutkan mencanting menggunakan malam, lalu memasuki tahap pewarnaan. Setiap proses memperlihatkan bahwa selembar batik lahir dari ketelitian, kesabaran, serta keterampilan yang perlu dipelajari secara bertahap.

Susi Kusniati, pewaris Sanggar Batik Katura, bersama timnya mendampingi para peserta sepanjang workshop. Kehadiran pelaku batik yang meneruskan tradisi keluarga memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal nilai sejarah yang melekat pada batik Trusmi sekaligus memahami teknik dasarnya.

“Perkembangan batik Trusmi itu sudah dari turun-temurun dari nenek moyang. Bapak Katura juga merupakan turunan ke-8 atau generasi ke-8. Dulu waktu kecil saya juga belajar membatik. Kalau di Cirebon sendiri batik itu ada 2 motif, satu motif pesisiran dan dan satu motif Keratonan. Cintailah batik dengan cara mulai untuk memakainya,” seru Susi.

Penjelasan tersebut memperlihatkan keterhubungan antara keterampilan membatik dan pewarisan pengetahuan dalam keluarga maupun komunitas. Di Trusmi, proses menjaga tradisi tidak berhenti pada produksi kain, melainkan juga pada upaya mengenalkan cerita, teknik, serta ragam motif kepada orang-orang yang baru mempelajarinya.

Peserta Datang dari Sejumlah Daerah

Para peserta workshop berasal dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Latar belakang mereka sebagai influencer dan kreator konten menjadi bagian penting dari kegiatan ini karena pengalaman membatik yang mereka peroleh kemudian dibagikan melalui media sosial.

Konten yang dihasilkan para peserta diharapkan dapat mendorong lebih banyak anak muda untuk mengenal batik. Bagi sebagian orang, batik mungkin lebih sering dijumpai sebagai pakaian pada acara tertentu. Namun, pengalaman memegang canting, membuat garis pada kain, dan melihat proses pewarnaan dapat membuka pemahaman bahwa batik juga merupakan karya yang dibangun melalui keterampilan manual dan tradisi panjang.

Sejumlah influencer mengaku baru pertama kali mencoba membatik secara langsung. Pengalaman tersebut memberi gambaran mengenai tingkat kerumitan di balik motif yang selama ini mereka lihat pada kain atau pakaian jadi. Dari proses menggambar hingga pewarnaan, setiap tahapan membutuhkan perhatian agar hasilnya sesuai dengan rancangan yang dibuat.

Kegiatan seperti ini juga mempertemukan cara tradisional dalam merawat budaya dengan kebiasaan komunikasi digital yang akrab bagi kreator konten. Ketika proses membatik diperlihatkan melalui pengalaman personal, batik dapat hadir lebih dekat bagi audiens muda tanpa melepaskan nilai budaya yang dibawanya.

Merawat Warisan Lewat Pengalaman Langsung

Batik Cirebon memiliki ragam karakter yang dikenal melalui motif pesisiran dan motif Keratonan. Perbedaan tersebut menunjukkan kekayaan ekspresi batik di daerah ini. Pengenalan terhadap ragam motif menjadi langkah awal untuk melihat batik bukan sekadar busana, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus dijaga.

Workshop di Sanggar Batik Katura menempatkan peserta sebagai pembelajar yang terlibat langsung, bukan hanya penonton. Dengan mencoba sendiri teknik dasar membatik, mereka dapat memahami alasan mengapa karya batik memerlukan proses yang tidak singkat dan keahlian yang diasah terus-menerus.

Ajakan untuk memakai batik juga menjadi pesan yang relevan dalam kegiatan tersebut. Mengenakan batik dalam keseharian dapat menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap para pembatik dan tradisi yang mereka teruskan. Pilihan sederhana itu dapat membantu menjaga kedekatan masyarakat dengan warisan budaya yang hidup di sekitarnya.

Melalui Aquaproof Membatik Bersama Influencer, kampanye Melindungi Karya, Merawat Warisan diwujudkan dalam pengalaman belajar bersama. Para peserta pulang membawa pengetahuan mengenai proses membatik serta kesempatan untuk menyebarkan semangat pelestarian batik kepada pengikut mereka di berbagai platform digital.

Frequently Asked Questions

What is Lindungi Karya Merawat Warisan Aquaproof Ajak?

Lindungi Karya Merawat Warisan Aquaproof Ajak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Lindungi Karya Merawat Warisan Aquaproof Ajak matter?

Lindungi Karya Merawat Warisan Aquaproof Ajak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a comment 💬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *