Jatim Terkini

Atasi Karhutla di TWA Kawah Ijen, BPBD Jatim Terjunkan Helikopter Water Bombing

Atasi Karhutla di TWA Kawah Ijen, BPBD Jatim Terjunkan Helikopter Water Bombing
Ilustrasi AI sesuai topik artikel, bukan foto dokumentasi peristiwa atau tokoh sebenarnya.

Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api di Kawah Ijen yang Membara Sejak Awal September

Beritanaya.com – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen belum juga berhasil dipadamkan sejak Kamis, 3 September. Kondisi tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur untuk mengerahkan helikopter water bombing sebagai upaya percepatan pemadaman. Keputusan ini diambil setelah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Bupati Banyuwangi secara bersama-sama menerbitkan Status Tanggap Darurat khusus untuk Karhutla di kawasan tersebut.

Kawah Ijen sendiri merupakan salah satu destinasi wisata alam paling ikonik di Jawa Timur, terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. Kawasan ini tidak hanya menyimpan danau kawah berwarna biru kehijauan yang menjadi daya tarik utama, tetapi juga ekosistem hutan pegunungan yang rentan terhadap kebakaran, terutama pada musim kemarau. Ketika api menyala di area tersebut, dampaknya tidak terbatas pada kerusakan vegetasi semata, melainkan juga mengancam kualitas udara bagi pengunjung, mengganggu habitat satwa liar, serta berpotensi memperluas kebakaran ke area permukiman di kaki gunung.

Perpindahan Helikopter dari Semeru ke Ijen

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa helikopter yang sebelumnya bertugas melakukan water bombing di kawasan Gunung Semeru dialihkan ke Ijen mulai Minggu, 6 September. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses pemadaman yang selama beberapa hari sebelumnya hanya mengandalkan upaya darat.

“Helikopter yang sebelumnya water bombing di kawasan Gunung Semeru, mulai hari ini, kami geser ke Ijen, untuk membantu percepatan,” ujar Gatot dalam keterangan persnya, Minggu (6/9).

Menurut Gatot, pengerahan helikopter ini merupakan respons atas permintaan resmi dari BKSDA dan Bupati Banyuwangi. Kedua instansi tersebut telah berkoordinasi dan menerbitkan Status Tanggap Darurat sebagai dasar hukum operasional penanganan kebakaran di TWA Kawah Ijen. Status ini mengaktifkan seluruh mekanisme tanggap darurat, termasuk pengerahan sumber daya lintas instansi dan alokasi anggaran darurat.

Kendala Operasional di Udara

Helikopter yang digunakan berjenis PK-DAP dengan kapasitas tangki 1.000 liter. Namun, kapasitas tersebut hanya memungkinkan dua kali pelaksanaan water bombing sebelum helikopter harus kembali mengisi ulang. Keterbatasan ini menjadi tantangan tersendiri mengingat luas area yang terbakar dan intensitas api yang belum mereda.

Permasalahan tidak berhenti pada kapasitas tangki. Kondisi meteorologi di sekitar Gunung Ijen turut menyulitkan operasi udara. Angin kencang yang bertiup di ketinggian serta kabut tebal yang kerap menyelimuti puncak membuat pilot kesulitan menentukan titik jatuhnya air secara presisi. Visibilitas rendah juga meningkatkan risiko keselamatan penerbangan, sehingga setiap misi harus dilakukan dengan perhitungan ekstra hati-hati.

Penyisiran Darat dan Pengerahan Personel

Sebagai pelengkap operasi udara, BPBD Jatim juga menerjunkan sejumlah personel ke lapangan untuk bergabung dengan tim darat yang bertugas melakukan penyisiran langsung di area kebakaran.

“Kami juga menerjunkan sejumlah personel untuk bergabung dengan tim darat yang akan melakukan penyisiran lewat darat,” kata Gatot.

Personel yang dikirim membawa logistik dan peralatan pemadaman lengkap. Rincian perlengkapan yang dibawa meliputi sepuluh unit alat gepyok, dua belas buah fireball, tiga unit jet shooter, serta sejumlah alat pelindung diri (APD) untuk menjamin keselamatan petugas di tengah suhu tinggi dan asap tebal. Kombinasi operasi udara dan darat ini diharapkan mampu memutus rantai api dari dua arah sekaligus, sehingga efektivitas pemadaman meningkat secara signifikan.

Dua Titik Fokus Pemadaman

Berdasarkan pemetaan awal, petugas memusatkan upaya pemadaman pada dua lokasi utama. Titik pertama berada di Gunung Merapi Ungup-ungup, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Titik kedua terletak di Dusun Curahmacan, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. Kedua lokasi ini dipilih karena menjadi sumber api yang paling aktif dan berpotensi meluas ke area hutan di sekitarnya jika tidak segera dikendalikan.

Pemadaman di kawasan pegunungan seperti Kawah Ijen memiliki kompleksitas tersendiri. Medan yang curam, akses jalan yang terbatas, serta vegetasi kering akibat musim kemarau membuat setiap upaya pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar dibandingkan kebakaran di dataran rendah. Selain itu, api yang menyala di lereng gunung dapat merambat dengan cepat mengikuti arah angin, sehingga kecepatan respons menjadi faktor penentu keberhasilan operasi.

BPBD Jatim menegaskan bahwa operasi akan terus berlanjut hingga seluruh titik api dinyatakan padam dan tidak ada lagi potensi reignisi. Koordinasi dengan BKSDA, pemerintah daerah Banyuwangi dan Bondowoso, serta instansi terkait lainnya akan dipertahankan selama Status Tanggap Darurat masih berlaku. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Kawah Ijen diimbau mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan menghindari jalur yang masih berpotensi dilintasi api.

Frequently Asked Questions

What is Atasi Karhutla di TWA Kawah Ijen?

Atasi Karhutla di TWA Kawah Ijen is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Atasi Karhutla di TWA Kawah Ijen matter?

Atasi Karhutla di TWA Kawah Ijen matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *