𝕏 f WA
Jatim Terkini

Facing Challenges: ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik, Sekali Cas Bisa Bajak Lahan 1 Hektare

Share: 𝕏 Twitter Facebook
Facing Challenges: ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik, Sekali Cas Bisa Bajak Lahan 1 Hektare

ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik: Solusi Berkelanjutan untuk Mengatasi Tantangan Pertanian

Facing Challenges menjadi tantangan utama yang dijawab oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui pengembangan traktor perahu listrik. Inovasi ini bertujuan mengatasi kesulitan dalam mekanisasi pertanian di lahan gambut yang seringkali sulit diakses oleh traktor konvensional. Dengan desain unik yang menyerupai perahu, alat ini mampu beroperasi di permukaan basah tanpa risiko tenggelam, memberikan kemudahan bagi petani dalam memanfaatkan lahan yang rawan remah.

Desain dan Teknologi Traktor Perahu Listrik

Traktor perahu listrik dibuat melalui Science Techno Park (STP) Otomotif ITS, yang memadukan konsep transportasi laut dan pertanian modern. Alat ini memiliki dua roda yang terhubung ke sistem hidrolik, memungkinkan pergerakannya mengikuti bentuk permukaan lahan gambut. Teknologi listrik juga memperkuat daya tahan dan mengurangi kebutuhan bahan bakar, sehingga mengatasi Facing Challenges terkait emisi karbon dan biaya operasional tinggi. Selain itu, daya baterai yang besar memungkinkan alat ini beroperasi hingga satu hektare tanpa perlu pengisian ulang.

Uji Coba dan Potensi Kolaborasi

Uji coba traktor perahu listrik dilakukan pada Selasa (15/7), dengan fokus pada efisiensi dan daya dukung di permukaan basah. Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menyatakan bahwa alat ini dirancang untuk mengatasi Facing Challenges di sektor pertanian, terutama di daerah rawan banjir dan perubahan iklim. Proyek ini juga mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian, yang berharap inovasi ini bisa diterapkan secara luas di lahan gambut Indonesia. “Kami yakin teknologi ini akan menjadi jawaban untuk pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” tambah Bambang.

“Berbeda dari traktor biasa, kendaraan taktis ini didesain agar mampu berfungsi baik di permukaan tanah lembap,” kata Bambang Pramujati, yang menekankan kemampuan alat ini menembus medan yang tidak bisa dilalui traktor konvensional.

Tim peneliti ITS terus mengoptimalkan sistem penggerak dan baterai, dengan tujuan meningkatkan daya tahan dan mengurangi dampak lingkungan. Alat ini juga dirancang untuk tidak merusak struktur tanah gambut, yang seringkali lemah dan rentan terhadap pengikisan. Dengan teknologi ini, Facing Challenges dalam mengelola lahan pertanian bisa diatasi secara lebih berkelanjutan, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati di sekitar daerah rawan erosi.

Manfaat dan Kontribusi untuk Pertanian Berkelanjutan

Penggunaan motor listrik dalam traktor perahu listrik mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang menjadi Facing Challenges utama dalam sektor pertanian. Alat ini juga menghasilkan emisi rendah, membantu mengurangi polusi udara dan membawa dampak positif terhadap lingkungan. Selain itu, keunggulan alat ini berupa kemudahan penggunaan dan biaya operasional yang lebih terjangkau, membuatnya menjadi pilihan yang relevan untuk petani kecil maupun besar.

“Sistem ini meminimalisasi kerusakan tanah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan dengan emisi rendah,” ujar Ketua Tim Peneliti, Prof. Bambang Sudarmanta, yang menekankan pentingnya inovasi ini dalam menghadapi perubahan iklim.

Dengan kemampuan menjangkau satu hektare lahan dalam satu pengisian, traktor perahu listrik diharapkan menjadi bagian dari solusi untuk Facing Challenges dalam pengelolaan lahan pertanian. Proyek ini juga menjadi contoh bagaimana teknologi bisa digunakan untuk memperkuat ketahanan pertanian di daerah rawan cuaca ekstrem dan permukaan tanah yang tidak stabil.

Pengembangan traktor perahu listrik bukan hanya berfokus pada kinerja teknis, tetapi juga pada adaptasi terhadap kebutuhan lokal. Dengan menggabungkan inovasi teknologi dan pengetahuan tradisional, ITS berharap alat ini bisa menjadi pilihan yang ramah bagi masyarakat daerah terpencil. Selain itu, penelitian ini juga menjadi langkah awal untuk mengatasi Facing Challenges dalam mengubah cara berproduksi pertanian Indonesia menjadi lebih modern dan berkelanjutan.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *