Progres Terkini Pembangunan Gedung Baru DPRD DIY
Main Agenda – Dalam rangka memperkuat citra dan fungsi DPRD DIY sebagai pusat pengambilan kebijakan, progres terkini pembangunan gedung baru di Jalan Kenari, Kota Yogyakarta, menjadi fokus utama dalam Main Agenda pembangunan infrastruktur kota. Proyek ini dirancang dengan konsep arsitektur modern, inklusif, dan ramah lingkungan, yang mencerminkan harmonisasi fungsi serta estetika bangunan. Pada kunjungan terbaru, Main Agenda ditekankan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sekretaris DPRD DIY Yudi Ismono, yang memberikan arahan untuk memastikan proyek ini mencapai target pembangunan dengan kualitas terbaik. Menurut Yudi, saat ini progres fisik mencapai 81 persen dari tahap penyelesaian, dengan beberapa penyesuaian terhadap konsep awal yang diusulkan.
Arahan untuk Memadukan Tradisi dan Inovasi
Kunjungan pengawasan yang dilakukan pada Rabu (15/7) memperlihatkan keberhasilan pihak terkait dalam mengembangkan gedung yang akan menjadi simbol modernitas dan kearifan lokal Yogyakarta. Dalam Main Agenda pembangunan, Gubernur DIY mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara elemen tradisional dengan teknologi konstruksi terbaru. “Harus ada keharmonisan antara identitas budaya dan fungsi gedung sebagai tempat legislatif,” tegasnya. Yudi Ismono menambahkan bahwa arahan ini diterapkan dalam desain plengkung, yang tidak hanya sebagai bagian struktural, tetapi juga diberi ornamen bernilai seni dari tembaga sebagai bagian dari Main Agenda.
“Pada kunjungan tadi, beliau menyarankan agar plengkung tidak hanya menjadi struktur, tetapi dipasangkan dengan ornamen-ornamen yang mencerminkan warisan budaya setempat,” jelas Yudi.
Menurut rencana, gedung ini akan menjadi tempat berkumpulnya masyarakat serta pusat pelayanan publik yang lebih efisien. Dalam Main Agenda, pihak terkait menekankan bahwa desain gedung harus memenuhi standar kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus adalah penggunaan bahan lokal seperti batu bata merah dan kayu jati, yang sejalan dengan upaya mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.
Proyek pembangunan yang dikerjakan oleh kontraktor terpercaya tersebut mengalami beberapa tantangan selama beberapa bulan terakhir, terutama dalam mengatur jadwal pemasangan elemen ornamen khas Yogyakarta. Namun, dengan koordinasi yang intensif antara DPRD DIY, Dinas PUPESDM, dan tim teknis, hambatan tersebut berhasil diminimalkan. Dalam Main Agenda, hal ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi multidisiplin dapat mendorong keberhasilan proyek infrastruktur besar. “Kami sudah menyisir ulang penganggaran, dan punya rencana cadangan jika ada perubahan arahan,” tutur Yudi, menjelaskan langkah antisipatif dalam menghadapi dinamika proyek.
Gedung baru ini diharapkan selesai pada 6 Desember 2026, sesuai dengan target kontrak yang telah ditetapkan. Selama proses konstruksi, beberapa penyesuaian diperlukan untuk memastikan kesesuaian dengan Main Agenda yang telah ditetapkan. Misalnya, penambahan ruang pertemuan dengan kapasitas 500 orang, serta sistem pengelolaan energi terbarukan yang diintegrasikan ke dalam desain. Menurut Yudi, langkah ini bertujuan memperkuat fungsi gedung sebagai pusat pengambilan kebijakan dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam Main Agenda pembangunan ini, pemerintah DIY juga fokus pada pemanfaatan ruang yang optimal. Gedung yang direncanakan memiliki luas sekitar 12.000 meter persegi dengan tiga lantai, termasuk area parkir yang dapat menampung 200 kendaraan. Selain itu, fasilitas seperti ruang rapat, perpustakaan, dan ruang pamer budaya dijadikan bagian integral dari konsep desain. “Pembangunan ini tidak hanya untuk kebutuhan fisik, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kenyamanan pengguna,” kata Yudi, menjelaskan alasan pihaknya memprioritaskan Main Agenda ini dalam skema pembangunan jangka panjang.
Sebagai bagian dari Main Agenda, proyek ini juga dirancang untuk menjadi model pembangunan daerah yang berkelanjutan. Pemanfaatan bahan daur ulang, sistem irigasi hijau, dan desain tata ruang yang fleksibel akan memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota yang berkomitmen pada pengurangan emisi karbon. “Selama ini, bangunan di DIY lebih mengutamakan keindahan, tetapi sekarang kita juga menekankan aspek lingkungan dan efisiensi energi,” tambah Yudi, menyoroti pergeseran prioritas dalam Main Agenda terkini.
Redaktur: Januardi Husin Reporter: M. Sukron Fitriansyah Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News
