RJI Gencarkan Model Publikasi Jurnal Tanpa Biaya sebagai Bagian dari Latest Program
Sumber: jpnn.com, Jakarta
Latest Program – Dalam rangka mendorong transformasi sistem publikasi jurnal di Indonesia, Relawan Jurnal Indonesia (RJI) meluncurkan Latest Program terbarunya yang bertujuan menghapus biaya Article Processing Charge (APC) bagi penulis. Latest Program ini diusung dalam Simposium Nasional yang digelar untuk merayakan 10 tahun keberadaan RJI dan Munas ke-4, yang menjadi platform penting untuk mendiskusikan inisiatif-inisiatif yang berdampak pada penelitian dan akademik. Model Diamond Open Access, yang menjadi inti dari Latest Program, mengusulkan bahwa biaya operasional jurnal ditanggung sepenuhnya oleh institusi pendidikan tinggi atau komunitas akademik, sehingga penulis dapat membagikan hasil riset mereka secara gratis tanpa hambatan finansial.
Apakah Latest Program Ini Berbeda dari Model Open Access Sebelumnya?
Model Diamond Open Access dalam Latest Program RJI berbeda dari metode open access konvensional yang biasanya membebankan biaya APC kepada penulis. Dalam model ini, biaya publikasi dibiayai oleh pihak ketiga, seperti universitas, lembaga riset, atau pemerintah, sehingga peneliti bisa membagikan artikel akhirnya secara bebas. Arbain, Ketua RJI, mengungkapkan bahwa konsep ini didukung oleh UNESCO dan diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan akses ilmu pengetahuan di seluruh dunia. “Dengan Latest Program ini, kita bisa menciptakan sistem yang lebih adil, di mana peneliti tidak perlu mengeluarkan uang untuk mempublikasikan karya ilmiah mereka,” tambah Arbain.
Di Indonesia, banyak peneliti mengalami kesulitan karena biaya APC yang bisa mencapai ratusan juta rupiah per artikel. Latest Program RJI mengusulkan perubahan struktur pendanaan jurnal agar biaya tersebut tidak lagi menjadi beban bagi penulis. Model ini juga dianggap lebih ramah bagi peneliti muda, yang seringkali mengalami keterbatasan dana. “Ini adalah langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan akses informasi akademik antara peneliti kaya dan peneliti kurang beruntung,” ujarnya.
Kontribusi Latest Program RJI dalam Meningkatkan Kualitas Jurnal Nasional
Kebijakan Latest Program RJI tidak hanya berfokus pada penghapusan biaya, tetapi juga pada peningkatan kualitas jurnal nasional. Dengan pendekatan ini, RJI ingin memastikan bahwa jurnal-jurnal yang dipublikasikan memiliki standar internasional yang tinggi. “Kami berharap Latest Program ini bisa menjadi pedoman bagi lembaga-lembaga akademik untuk mengembangkan jurnal yang lebih kompetitif di tingkat global,” kata Arbain. Saat ini, sekitar 1.206 jurnal di Indonesia sudah menerapkan model tanpa biaya, menurut laporan yang dirilis oleh RJI. Angka ini menunjukkan adanya progres yang signifikan, meski masih ada tantangan dalam mendorong lebih banyak jurnal untuk beralih ke sistem Diamond Open Access.
Keberhasilan Latest Program juga tergantung pada dukungan pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi. Kemendikbudristek, misalnya, menyambut baik inisiatif RJI karena selaras dengan visi menciptakan sistem akademik yang inklusif dan berkelanjutan. “Dukungan dari pihak pemerintah sangat penting agar Latest Program ini dapat diimplementasikan secara luas dan berkelanjutan,” jelas Arbain. Ia menambahkan bahwa RJI juga sedang berupaya untuk menggalang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemangku kepentingan internasional, guna memperkuat momentum perubahan ini.
“Latest Program ini adalah bagian dari upaya menyeluruh untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan bisa diakses oleh siapa pun, tanpa terbatas oleh kemampuan finansial. Maka, akses ke penelitian nasional sekarang bisa menjadi lebih merata,” ujar Arbain.
Kebijakan Diamond Open Access dalam Latest Program RJI juga berdampak besar pada ekosistem penelitian di Indonesia. Dengan menghilangkan biaya publikasi, peneliti bisa lebih fokus pada kualitas riset mereka daripada pada biaya produksi. “Hal ini membantu mendorong inovasi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu, karena akses ke publikasi menjadi lebih mudah,” kata Arbain. Di sisi lain, model ini juga menuntut perubahan sistem pendanaan jurnal yang lebih efisien, agar biaya operasional bisa tertanggung oleh institusi yang memang memiliki kapasitas keuangan. “Kami yakin Latest Program ini akan menjadi pelopor di Asia Tenggara dalam hal ini,” tambahnya.
Selain itu, Latest Program RJI juga menyoroti pentingnya pelatihan dan edukasi bagi peneliti, agar mereka memahami manfaat dari model Diamond Open Access. “Kami menyediakan sumber daya dan bimbingan teknis agar jurnal nasional bisa memenuhi standar internasional,” jelas Arbain. Ia berharap dalam beberapa tahun ke depan, jumlah jurnal tanpa biaya akan meningkat drastis, dan RJI akan menjadi pusat pengembangan model publikasi yang lebih adil dan transparan. “Ini adalah bagian dari Latest Program yang lebih luas, yakni membangun ekosistem penelitian yang inklusif,” tutup Arbain.
Dengan Latest Program ini, RJI berharap untuk mempercepat proses transformasi sistem publikasi jurnal di Indonesia. Program yang diusung juga diharapkan menjadi contoh bagi negara-negara lain yang ingin mengurangi biaya akses ilmu pengetahuan. “Kami yakin, Latest Program ini akan memperkuat peran jurnal nasional dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam penelitian,” pungkas Arbain. Dengan implementasi yang tepat, model ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah akses dan biaya publikasi jurnal yang selama ini dianggap sebagai penghalang bagi peneliti, terutama yang berasal dari luar kota besar atau institusi kecil.
