Delapan Mahasiswa Indonesia-Tiongkok Jadi Duta Persahabatan ‘Jejak Cheng Ho’
Peluncuran Program Budaya di Universitas Al Azhar Indonesia
Main Agenda – Program “Jejak Cheng Ho: Sang Duta Persahabatan Dunia” resmi diluncurkan oleh Kantor Informasi Pemerintah Provinsi Yunnan dan Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Yunnan di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta. Acara ini, yang menjadi bagian dari inisiatif Main Agenda, dihadiri oleh lebih dari 200 peserta, termasuk dosen, mahasiswa, dan perwakilan dari institusi pendidikan kedua negara. Tujuan utama dari program ini adalah memperkuat hubungan antar generasi muda Indonesia dan Tiongkok melalui kerja sama pendidikan, pertukaran budaya, serta penguatan kebersamaan melalui kegiatan kolaboratif. Dalam rangka Main Agenda, delapan mahasiswa yang terpilih menjadi “Duta Persahabatan” akan menjadi duta utama dalam menyampaikan nilai-nilai perdamaian dan kerja sama yang telah diwariskan oleh sejarah.
Nilai Sejarah dan Makna ‘Jejak Cheng Ho’
Kegiatan ini mengambil inspirasi dari perjalanan luar angkasa Laksamana Cheng Ho, yang lebih dari 600 tahun lalu menjelajah Nusantara sebagai duta perdamaian Tiongkok. “Jejak Cheng Ho” mencerminkan semangat kerja sama antar budaya yang telah terjalin sejak abad ke-15, menurut Wen Liao, Wakil Direktur Kantor Peradaban Spiritual Komite Partai Provinsi Yunnan. Sebagai bagian dari Main Agenda, program ini tidak hanya memperingati sejarah, tetapi juga menjadi wadah untuk mengembangkan hubungan bilateral yang lebih dalam di era modern. Cheng Ho dikenal sebagai simbol perdamaian, kebajikan, dan kerja sama antar bangsa, yang diharapkan menjadi referensi bagi mahasiswa saat ini dalam mewujudkan kerja sama yang lebih erat.
Duta Persahabatan yang terpilih akan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan budaya, seperti pameran seni, diskusi sejarah, serta pertukaran ide antar mahasiswa. Selain itu, program ini juga menyediakan pelatihan bahasa Mandarin untuk mahasiswa Indonesia dan sebaliknya, dengan harapan mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai bahasa dan budaya masing-masing negara. Kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menekankan kerja sama jangka panjang, termasuk penelitian bersama, pertukaran akademik, dan kolaborasi dalam bidang pendidikan tinggi. Main Agenda berkomitmen untuk menjadikan program ini sebagai model keberhasilan dalam mewujudkan kerja sama internasional yang berkelanjutan.
Kolaborasi Antara Kunming City College dan Universitas Al Azhar Indonesia
Peluncuran “Jejak Cheng Ho” juga melibatkan perjanjian kerja sama antara Kunming City College dan Universitas Al Azhar Indonesia. Yu Zhuqing, Wakil Sekretaris Komite Partai sekaligus Wakil Rektor Kunming City College, mengatakan bahwa program ini adalah keberhasilan kemitraan antar dua institusi yang saling menghargai nilai-nilai persahabatan. “Main Agenda tidak hanya berfokus pada pertukaran budaya, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dan terbuka terhadap berbagai budaya,” tambah Yu, menjelaskan bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara berkala dan melibatkan sejumlah besar mahasiswa dari kedua negara.
Menurut Yusup Hidayat, Wakil Rektor II Universitas Al Azhar Indonesia, Cheng Ho tetap menjadi tokoh yang sangat dihormati di Indonesia karena kontribusinya dalam membawa perdamaian dan budaya Tiongkok ke Nusantara. “Main Agenda berusaha memperkuat kerja sama ini dengan memanfaatkan kiprah Cheng Ho sebagai simbol keharmonisan antar bangsa,” ujarnya. Duta Persahabatan akan menjadi penghubung utama dalam menjaga keberlanjutan program, termasuk menyelenggarakan diskusi tentang sejarah, ekonomi, dan kebudayaan. Program ini juga diharapkan menjadi titik awal untuk kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan dan ekonomi.
Contoh Kegiatan dan Peran Duta Persahabatan
Dalam acara peluncuran, para duta persahabatan akan terlibat dalam berbagai kegiatan seperti eksplorasi sejarah Cheng Ho melalui simulasi pelayaran, presentasi tentang kebudayaan Indonesia dan Tiongkok, serta kerja sama dalam menulis esai tentang kerja sama internasional. Selain itu, program ini juga akan mencakup pelatihan keterampilan seperti bahasa Mandarin, budaya Tiongkok, dan penguasaan teknologi modern. “Main Agenda memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan langsung makna persahabatan yang diwariskan oleh leluhur kita,” kata Wen Liao. Duta Persahabatan juga akan menjadi pengamat kritis terhadap kegiatan ini, serta membantu menyebarkan pesan kebersamaan melalui media sosial dan platform komunikasi digital.
Komitmen untuk Memperkuat Hubungan Kebudayaan
Sebagai bagian dari Main Agenda, program “Jejak Cheng Ho” diharapkan menjadi salah satu inisiatif yang memperkuat hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Tiongkok. Duta Persahabatan akan berperan aktif dalam mempromosikan nilai-nilai persahabatan melalui berbagai bentuk ekspresi, seperti pertunjukan seni tradisional, penampilan musik, serta pemilihan bahan karya seni yang mencerminkan budaya kedua negara. “Keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif mahasiswa,” kata Yusup Hidayat, yang menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya kerja sama internasional. Main Agenda juga berharap program ini menjadi wadah untuk menginspirasi generasi muda yang lebih kreatif dan inovatif dalam menjalin hubungan antar budaya.
Program ini menandai awal dari kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan dan ekonomi. Dengan adanya Duta Persahabatan, universitas-universitas di Indonesia dan Tiongkok dapat
