IISAR 2026: 28 Negara Bawa Inovasi, Perkuat Operasi SAR Nasional
Main Agenda dari IISAR 2026 menggarisbawahi pentingnya kolaborasi internasional dalam memperkuat sistem operasi penyelamatan darurat (SAR) di Indonesia. Acara pameran yang berlangsung di venue NICE, PIK 2, Tangerang, ini menampilkan inovasi teknologi terkini dari 28 negara peserta, termasuk negara-negara yang terlibat dalam aktivitas SAR sejak dulu. Inovasi-inovasi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam meningkatkan kesiapan nasional menghadapi berbagai situasi darurat yang kompleks.
Kontribusi Global untuk SAR Indonesia
Kehadiran IISAR 2026 menjadi kesempatan strategis bagi Indonesia untuk berdiskusi dengan negara-negara lain mengenai solusi teknologi yang dapat diadopsi dalam operasi SAR. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menekankan bahwa inovasi dari 28 negara ini tidak hanya memperkaya perspektif lokal, tetapi juga menjadi kekuatan global yang dapat mendukung keberlanjutan operasi SAR. Ia menyebutkan bahwa risiko bencana alam di wilayah Indonesia, terutama di daerah Ring of Fire, memaksa pemerintah dan lembaga terkait untuk terus berinovasi.
Dalam Main Agenda acara, Pratikno juga menyoroti peran teknologi dalam mengurangi waktu respons darurat. Ia menjelaskan bahwa efektivitas operasi SAR sangat bergantung pada penggunaan alat-alat modern, seperti drone, sistem komunikasi satelit, dan alat analisis data real-time. “Kami harus selalu siaga menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi,” tambahnya, menegaskan bahwa SDM berkualitas tinggi dan teknologi terdepan harus diintegrasikan dalam upaya penguatan SAR nasional.
Perubahan Iklim dan Tantangan SAR
IISAR 2026 tidak hanya fokus pada teknologi SAR, tetapi juga menghadirkan wacana mengenai dampak perubahan iklim terhadap frekuensi dan intensitas bencana. Menko PMK mengingatkan bahwa fenomena hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan gempa bumi berpotensi meningkat, sehingga memerlukan sistem antisipasi yang lebih canggih. Ia menegaskan bahwa Main Agenda ini memberikan ruang bagi negara-negara peserta untuk berbagi pengalaman, baik dari sisi teknologi maupun pengelolaan kegiatan SAR di lingkungan berisiko tinggi.
Salah satu inovasi yang menarik adalah sistem pemetaan digital berbasis AI yang digunakan oleh negara-negara peserta. Teknologi ini membantu mengoptimalkan penggunaan sumber daya manusia dan alat di lapangan, mengurangi kesalahan pengambilan keputusan selama penyelamatan. Pameran ini juga memperlihatkan hasil riset dari lembaga penelitian internasional yang terkait dengan peningkatan keakuratan prediksi bencana. Menko PMK berharap inovasi ini dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah yang rawan bencana, untuk meningkatkan efisiensi operasi SAR.
Acara IISAR 2026 menjadi pengingat bahwa penguatan SAR nasional tidak bisa dilakukan secara terpisah dari kerja sama internasional. Dengan adanya 28 negara peserta, Indonesia bisa mengakses sumber daya dan pengetahuan terkini yang mungkin belum tersedia di dalam negeri. Pameran ini juga menjadi sarana untuk mengidentifikasi gap teknologi dan sumber daya yang masih menjadi tantangan utama. Main Agenda acara tidak hanya memperkuat kerja sama, tetapi juga membangun jaringan pertukaran informasi yang berkelanjutan.
Menko PMK menambahkan bahwa penerapan inovasi SAR harus disertai dengan pelatihan dan pengembangan SDM secara berkala. “Tenaga kerja harus mampu mengoperasikan teknologi baru dengan baik,” katanya. Ia juga menyinggung pentingnya pembangunan infrastruktur SAR di daerah terpencil, yang menjadi fokus dalam Main Agenda ini. Teknologi yang ditampilkan tidak hanya bermanfaat untuk wilayah perkotaan, tetapi juga untuk wilayah yang sulit dijangkau, sehingga memperluas jangkauan operasi darurat.
Dengan berbagai inovasi yang dipamerkan, IISAR 2026 diharapkan menjadi titik awal bagi transformasi operasi SAR nasional. Main Agenda ini membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya mampu menghadapi tantangan lokal, tetapi juga siap menerima kontribusi global untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas sistem SAR. Dengan kolaborasi yang lebih kuat, pemerintah dan lembaga terkait bisa memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat Indonesia dalam situasi darurat.
