New Policy: Jazilul PKB Sarankan PDIP Bersikap, Deddy Sitorus Sewot: Urus Partai Sendiri!
New Policy – Jpnn.com, JAKARTA – Anggota DPR dari Dapil Kalimantan Utara (Kaltara), Deddy Yevri Sitorus, mengkritik pernyataan Jazilul Fawaid atau Gus Jazil dari PKB yang menyarankan PDIP untuk bersikap lebih tegas dalam menghadapi pemerintahan Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut muncul dalam konteks New Policy yang menjadi fokus perdebatan di internal partai dan antar-parpol. Deddy menegaskan bahwa PDIP memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan sendiri, sementara PKB seharusnya fokus pada urusan partai mereka.
Kritik Gus Jazil tentang Sikap PDIP
“Lebih baik Jazilul mengurus partai sendiri ketimbang mengintervensi urusan PDIP,” ujar Deddy melalui pesan, Kamis (18/6). Deddy menilai kritik yang dilontarkan Gus Jazil terasa seperti intervensi berlebihan, terutama karena PDIP telah memutuskan sikapnya melalui mekanisme internal yang sah, yaitu Kongres dan Rakernas. Ia menambahkan bahwa New Policy yang diusulkan PKB dinilai kurang relevan jika tidak didasari pemahaman mendalam tentang peran PDIP sebagai partai oposisi.
Proses Pengambilan Keputusan PDIP
Deddy menjelaskan bahwa PDIP telah menegaskan posisinya melalui keputusan yang diambil secara demokratis dalam forum resmi partai. “Jadi, tidak bisa seenaknya kader partai lain mendesak kami untuk bertindak tanpa dasar,” tambahnya. Menurut Deddy, New Policy yang diusulkan PKB perlu disesuaikan dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh PDIP, bukan mengabaikan proses pengambilan keputusan internal.
Menurut Deddy, PDIP memilih tetap berada di luar pemerintahan sebagai penyeimbang kekuasaan, karena mayoritas kursi di DPR telah dikuasai oleh partai-partai yang mendukung pemerintahan Prabowo. “Kenapa perlu menjadi penyeimbang, karena mayoritas DPR sudah dikuasai oleh partai-partai yang berada dalam pemerintahan,” kata Deddy. Ia menekankan bahwa New Policy yang diusung PKB tidak bisa mengabaikan fakta bahwa PDIP memiliki mandat yang jelas dan telah dijalankan sesuai prosedur.
Deddy juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap kurangnya pemahaman Gus Jazil tentang peran PDIP sebagai partai oposisi. “Saya heran ketika Gus Jazil mengaku tidak mengerti bahwa PDIP tetap berada di luar pemerintahan,” ujarnya. Ia menilai kritik yang diberikan Gus Jazil kurang tepat sasaran, karena PDIP tetap menjalankan tugasnya sebagai partai yang bertanggung jawab dalam menyuarakan kebijakan New Policy yang mereka yakini penting untuk kestabilan politik nasional.
Pernyataan Deddy ini menggambarkan dinamika hubungan antar-parpol dalam menghadapi era New Policy yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, PDIP dianggap tetap menjadi pihak yang berwenang mengambil keputusan, sementara PKB dianjurkan untuk lebih fokus pada program internal mereka. Deddy menambahkan bahwa New Policy yang diusulkan PKB bisa menjadi penguat koalisi, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip PDIP.
Komentar Deddy menambahkan ketegangan dalam hubungan PDIP dan PKB. Meski demikian, kritik ini juga menunjukkan komitmen PDIP untuk menjaga keharmonisan internal partai mereka. New Policy yang diusung oleh berbagai pihak diharapkan bisa memperkuat konsensus politik, bukan malah memecah belah kerja sama antar-parpol. Dengan adanya New Policy, dinamika politik Indonesia diharapkan lebih terstruktur dan mendorong pemerintahan yang lebih inklusif.
Penjelasan Deddy tentang New Policy ini menyoroti pentingnya pengambilan keputusan yang konsisten dan berdasarkan prosedur. Ia menegaskan bahwa PDIP tetap akan bersikap tegas terhadap pemerintahan Prabowo, meski ada tekanan dari pihak luar. New Policy, menurut Deddy, bukan hanya tentang sikap politik, tetapi juga tentang strategi jangka panjang dalam membangun koalisi yang lebih kuat untuk kepentingan nasional.
