PPI: Langkah Strategis PFII dan Pentingnya Insentif Kompetitif untuk Menarik Investasi Global
Beritanaya.com – Jakarta β Ketua Umum Perhimpunan Periset Indonesia, Syahrir Ika, menekankan perlunya pemerintah menyediakan insentif fiskal yang kompetitif dalam pelaksanaan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Hal ini diperlukan agar Indonesia dapat bersaing dengan pusat-pusat keuangan dunia dalam menarik modal asing.
Sebagai periset di Pusat Riset Ekonomi BRIN, Syahrir Ika menyoroti bahwa sektor keuangan memiliki karakteristik berbeda dari sektor riil. Pergerakan modal terjadi jauh lebih cepat, sehingga investor cenderung membandingkan berbagai kemudahan dan insentif yang ditawarkan Indonesia dengan negara-negara lain seperti Vietnam, Malaysia, Dubai, maupun Singapura.
Insentif Fiskal yang Tidak Berdiri Sendiri
Menurut Syahrir, jika negara lain memberikan fasilitas yang lebih menarik, investor akan cenderung memilih destinasi tersebut. Oleh karena itu, tantangan utamanya bukan hanya pada besaran insentif yang diberikan, melainkan bagaimana insentif tersebut mampu menjaga daya saing Indonesia di tengah persaingan global.
“Kalau negara lain memberikan fasilitas yang lebih baik, tentu investor akan memilih negara tersebut. Karena itu, persoalannya bukan sekadar kita memberikan insentif berapa besar, tetapi bagaimana insentif yang kita berikan mampu membuat Indonesia tetap kompetitif dibanding negara pesaing,” kata Syahrir di Jakarta, Rabu.
Insentif fiskal memang menjadi instrumen yang umum digunakan pemerintah untuk meningkatkan daya saing investasi. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa pengurangan pajak saja tidak serta-merta menarik investor tanpa didukung ekosistem usaha yang kuat.
“Insentif fiskal itu perlu, tetapi tidak berdiri sendiri. Investor tidak hanya menghitung pajak, tetapi juga melihat stabilitas politik, konsistensi kebijakan, kualitas regulasi, infrastruktur, hingga kepastian berusaha,” ujar mantan Peneliti di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan itu.
Keseimbangan Fiskal dalam Merancang Insentif
Oleh karena itu, implementasi PFII harus didukung oleh kombinasi berbagai kebijakan yang saling melengkapi. Indonesia tidak hanya perlu menawarkan insentif fiskal, tetapi juga menciptakan lingkungan investasi yang memberikan kepastian dan kenyamanan bagi pelaku usaha global.
Di sisi lain, Syahrir mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan fiskal dalam merancang berbagai insentif tersebut. Upaya meningkatkan daya saing tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesehatan fiskal nasional, karena hal itu justru dapat meningkatkan persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia.
“Pemerintah tentu harus menghitung posisi insentif yang optimal. Kita harus kompetitif, tetapi jangan sampai ruang fiskal terganggu karena pada akhirnya justru akan meningkatkan risiko ekonomi,” katanya.
