Pabrik Obat Keras Ilegal di Bandung Terungkap, Produksi Diduga Capai 8 Juta Butir Sehari
Beritanaya.com – Polisi membongkar dugaan kegiatan produksi obat keras ilegal dalam skala besar di kawasan Pergudangan Bizpark, Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat. Tempat tersebut diduga memproduksi Tramadol dan Heximer dengan kemampuan hingga sekitar 8 juta butir setiap hari.
Pengungkapan ini tidak hanya mengarah pada satu titik produksi. Aparat menemukan pabrik sekaligus gudang yang diduga menjadi bagian dari rangkaian pengolahan, penyimpanan, dan pengiriman obat keras ilegal. Sejumlah bahan baku, peralatan produksi, perangkat komunikasi, serta dokumen keuangan turut diamankan.
Penangkapan Awal di Tol Purbaleunyi
Rangkaian perkara bermula pada Jumat, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 18.00 WIB. Seorang tersangka ditangkap di Rest Area Kilometer 125 Tol Purbaleunyi, Bandung. Saat diamankan, petugas menemukan 600 ribu butir Heximer yang telah siap diedarkan.
Barang tersebut disebut akan dibawa menuju Jakarta. Temuan itu kemudian menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk menelusuri jalur distribusi serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aktivitas produksi obat keras tanpa izin.
“Mulanya mengamankan satu orang tersangka pada hari Jumat di kilometer 125 Purbaleunyi dengan barang bukti 600 ribu butir Hexymer siap edar. Barang bukti tersebut hendak dibawa menuju Jakarta,” kata Kapolda Jabar Irjen Hengki di Bandung, Minggu, 18 Oktober 2026.
Jumlah barang bukti yang ditemukan dalam penangkapan pertama menunjukkan bahwa distribusi diduga dilakukan dalam volume besar. Polisi kemudian memperluas penyelidikan untuk mencari asal obat-obatan tersebut serta pihak yang menyiapkan pengirimannya.
Tiga Lokasi Digerebek di Kawasan Kopo
Pengembangan dilakukan sejak Sabtu, 17 Oktober, dan berlanjut hingga Minggu. Polisi menggerebek tiga lokasi yang letaknya berdekatan di kompleks Pergudangan Bizpark, Kopo. Lokasi-lokasi itu diduga saling berkaitan dalam kegiatan produksi dan penyimpanan obat keras ilegal.
Dari operasi tersebut, empat orang tambahan diamankan. Dengan penangkapan awal di Tol Purbaleunyi, jumlah tersangka dalam perkara ini mencapai lima orang.
Setiap tersangka diduga menjalankan tugas berbeda. Ada yang disebut berperan sebagai pembeli, peracik, pengantar barang, hingga koordinator pengiriman sesuai pesanan. Pembagian peran ini masih menjadi bagian dari pendalaman penyidik untuk mengungkap pola kerja jaringan secara menyeluruh.
“Kami masih mendalami keterlibatan masing-masing tersangka dalam jaringan produksi dan distribusi obat keras ilegal tersebut,” ujar Hengki.
Pemeriksaan terhadap para tersangka menjadi penting untuk menjelaskan hubungan antara proses pengadaan bahan, produksi, pengemasan, penyimpanan, hingga pengiriman obat. Penyidik juga menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terkait dengan jaringan tersebut.
Bahan Baku Berton-ton dan Mesin Produksi Disita
Dalam penggerebekan di kawasan Kopo, polisi menyita bahan baku obat dalam jumlah besar. Material itu tersimpan di puluhan drum dan disebut mencapai hitungan ton. Selain bahan baku, petugas membawa sejumlah mesin yang diduga dipakai dalam proses pembuatan obat.
Peralatan yang diamankan mencakup mesin cetak dan mesin pemanas. Keberadaan perangkat tersebut menjadi salah satu fokus pemeriksaan karena diduga berkaitan langsung dengan kapasitas produksi yang sangat besar di lokasi tersebut.
Polisi juga menyita puluhan telepon seluler, laptop yang memuat data penjualan, serta buku rekening. Barang-barang ini berpotensi membantu penyidik menelusuri komunikasi, pencatatan pesanan, pola pengiriman, dan aliran transaksi yang diduga berkaitan dengan kegiatan ilegal itu.
Data digital dan catatan keuangan dapat menjadi petunjuk untuk memetakan aktivitas para pelaku, termasuk dugaan hubungan antara pihak yang memproduksi barang dengan pihak yang menerima atau mengirimkan pesanan. Pendalaman terhadap barang bukti itu masih berlangsung.
Penelusuran Jaringan Masih Berjalan
Kasus ini menempatkan perhatian pada dugaan peredaran obat keras tanpa jalur resmi. Tramadol dan Heximer menjadi dua jenis obat yang disebut dalam pengungkapan tersebut, sementara penyidik terus menelusuri bentuk keterlibatan lima tersangka yang telah diamankan.
Pengungkapan pabrik dan gudang di satu kawasan pergudangan memperlihatkan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada pengiriman 600 ribu butir obat siap edar. Penangkapan di jalur tol justru membuka rangkaian pemeriksaan yang mengarah ke lokasi produksi di Bandung.
Polisi kini memeriksa peran setiap tersangka, menelaah perangkat elektronik, serta mencocokkan catatan yang ditemukan di lokasi dengan barang bukti lain. Proses itu diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai produksi dan distribusi obat keras ilegal yang diduga berlangsung dari kawasan Kopo.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kronologi Pengungkapan Pabrik Obat Keras Berkapasitas 8?
Kronologi Pengungkapan Pabrik Obat Keras Berkapasitas 8 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kronologi Pengungkapan Pabrik Obat Keras Berkapasitas 8 matter?
Kronologi Pengungkapan Pabrik Obat Keras Berkapasitas 8 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
